FF >> “Love at First Sight” (2/2) A

Love at First Sight

Author          : Lee TaeRin [Tarina aka TARinWish]

Cast               :

EXO-M’s LuHan

EXO-M’s Chen as Chen aka Kim JongDae

Ok HyeJin (OC)

Park JiYeon

Genre           : Romance

Rating           : PG-16

Lenght          : TwoShoot

*Author POV*

Mau tak mau HyeJin pun melanjutkan langkahnya yang terhenti. Namun langkah HyeJin terhenti oleh seseorang yang membekapnya dari belakang.

“Eummbb… Eummb..” Bruuk… Tubuh HyeJin lemas di dalam dekapan orang yang membekapnya tersebut. Lalu menyeret tubuh lemah HyeJin.

LuHan membalikkan tubuhnya dengan kesal. “Apa dia benar-benar tidak datang?! Aku ke rumahnya saja!! Dia harus mau menerima lamaranku!!!”, seru LuHan berjalan menuju rumah HyeJin.

Namun sebuah sepatu higheels tergeletak di tanah menghentikan langkahnya. “Ini… Bukankah ini milik HyeJin dariku..?”, gumam LuHan mengambil sepatu itu ,dan segera melihat sekelilingnya. Dilihatnya sebuah mobil yang mulai distarter dan melaju dengan kencang.

“Ok HyeJin!”, seru LuHan berfirasat buruk.

LuHan pun bergegas menuju mobilnya, dan mengejar mobil itu.

*Author POV*

Mobil yang membawa HyeJin berhenti di sebuah rumah mewah bergaya minimalis. Lalu membawa HyeJin ke dalam rumah tersebut. LuHan yang sudah memarkirkan mobilnya tak jauh dari mobil itu, langsung mengikuti orang tersebut masuk ke dalam rumah diam-diam.

LuHan bersembunyi di balik tembok, ia menahan emosinya ketika melihat HyeJin diikat oleh orang tersebut.

*HyeJin POV*

“Euuungh..”, keluhku mulai tersadar. Tubuhku terikat, aku pun tak dapat melihat apapun, mataku pun tertutup dengan ikatan kain yang cukup kuat.

“Ok HyeJin.. Kau sudah sadar?”, terdengar suara seorang yeoja mendekatiku.

“Siapa..?? Kau siapa?”, tanyaku mulai ketakutan.

“Kau tak mengenali suaraku, HyeJin-ah..? Kau sahabat yang kejam!”, ujarnya tepat di telingaku.

“JiYeon? Park JiYeon?”, tebakku hati-hati.

“Kalau benar, apa kau akan marah padaku?”, tanyanya.

“Mwo?! Apa yang kau lakukan?”, tanyaku.

“Menghalangimu bersama Xi-Lu-Han.”, jawabnya penuh penekanan. Aku terdiam mendengarnya, tanpa menanggapi apapun.

“Kau tak tahu kan, aku sudah lama mengincar Xi LuHan. Tapi tak tahunya kau duluan yang mengenalnya, terlebih lagi kalian saling menyukai. Ini tidak adil bagiku. Sebagai sahabatku maukah kau merelakannya untukku, HyeJin-ah?”, jelas Jiyeon sinis.

“Jika tidak, apa yang akan kau lakukan? Kau tak pernah mengatakan hal itu padaku. Jadi sekalipun kau sahabatku, sedikitpun aku tak merasa bersalah padamu, apalagi merelakan LuHan padamu.”, ujarku tanpa ragu.

*Author POV*

LuHan masih berdiri di tempatnya, mendengar percakapan mereka berdua, agar tahu akar masalahnya.

JiYeon tersenyum sinis mendengar perkataan HyeJin. “Bolehkah aku menghancurkanmu?”, ujar Jiyeon.

“Hanya karena Xi LuHan, kau berani melukaiku?! Nappeun yeoja!!”, seru HyeJin.

JiYeon mengelus lembut rambut HyeJin, lalu berkata, “Benar. Apa kau menyesal bersahabat denganku?”, lalu menjambak rambut HyeJin membuatnya meringis sakit.

Tangan JiYeon beralih ke wajah HyeJin, lalu mengelusnya. “Aku heran, kenapa tanpa perawatan pun wajahmu bisa sehalus dan sebersih ini. Rasanya aku ingin mencoret-coretnya, bolehkah?”, kata JiYeon lalu mengambil sebuah silet dari saku jeans’nya.

LuHan tak kuasa lagi menahan emosinya melihat HyeJin diperlakukan seperti itu, namun sebelum melangkah ia menelpon polisi agar segera datang ke rumah tersebut.

*LuHan POV*

Yeoja itu sudah berancang-ancang menyentuh pipi HyeJin dengan silet.

“Hentikan!!”, seruku mencergahnya.

“Xi.. LuHan..”, kejutnya melihatku hingga ia menjatuhkan benda tajamnya itu.

Aku pun menarik tangannya agar ia menjauh dari HyeJin. Lalu mendorongnya hingga jatuh ke lantai.

Aku berbalik menghampiri HyeJin, “HyeJin-ah, gwaenchana?”, tanyaku sembari melepas penutup matanya. Dia mengangguk, aku pun hendak melepas ikatan yang mengunci tangannya. Namun ada tangan kekar yang mencergahku, lalu mendorong tubuhku hingga membentur tembok.

“JiYeon-ah, lanjutkan saja!!”, perintah namja yang mendorongku tadi. Yeoja yang bernama JiYeon itu berusaha berdiri dan mengambil silet yang dijatuhkannya tadi. Lalu menghampiri HyeJin yang masih terikat di kursi.

Aku hendak mencegahnya, namun namja itu menahanku. “Kau bermain denganku saja!”, ucapnya.

“Taecyeon oppa, jangan terlalu serius! Jangan sakiti my prince!”, ucap JiYeon memperingatkan namja ini.

“HyeJin-ah, mungkin ini akan terasa sangat perih. Tapi tak seperih hatiku.”, ucap JiYeon dengan ekpresi datar, dan mulai menempelkan silet itu pada pipi kanan HyeJin.

Bruuuk.. Ku kerahkan seluruh tenagaku untuk mendorong namja kekar itu. Lalu mendorong JiYeon hingga menjauhi HyeJin.

*Author POV*

Buuuuk.. Satu pukulan keras mendarat ke wajah LuHan, hingga ia tersungkur di lantai. “LuHan!!”, pekik HyeJin.

“Park Taecyeon!! Hentikan!! Aku bilang jangan sakiti dia!!”, teriak JiYeon.

“Namja ini tak pantas kau sukai, JiYeon-ah!!”, seru namja bernama TaecYeon sembari meraih kerah kemeja LuHan.

HyeJin berusaha melepas ikatan talinya, namun tenaganya tak cukup kuat. TaecYeon berancang-ancang mendaratkan pukulannya ke arah LuHan, namun suara sirene polisi menghentikkan niatnya.

TaecYeon segera mendorong LuHan, hingga ia terjatuh. Lalu menarik JiYeon untuk melarikan diri, namun waktu tak berpihak pada mereka. Beberapa polisi sudah lebih dulu menyergap mereka.

“Anda juga harus ikut kami ke kantor, kami butuh kesaksian korban.”, ujar salah satu polisi tersebut.

“Mwo?!!! Sekarang tidak bisa, kami punya urusan yang lebih penting.”, tolak LuHan.

“Eumm.. Baiklah.. Tapi kami harap besok Anda berkenan untuk memberikan keterangan lebih lanjut.”, kata polisi tersebut.

“Ne. Gamsahamnida..”, ucap LuHan sambil menundukkan tubuhnya pada polisi tersebut.

LuHan menggendong HyeJin yang masih lemah akibat efek obat bius.

“Yaa!! Turunkan aku, Xi LuHan!! Aku bisa jalan sendiri!”, seru HyeJin enggan.

“Kau masih lemah. Selain itu, lihat! Kaki kirimu tak memakai alas apapun. Bagaimana bisa aku membiarkanmu jalan sendiri!”, ujar Luhan membawa HyeJin menuju mobilnya. LuHan membuka pintu mobilnya dan mendudukkan HyeJin di jok mobil.

“Bagaimana bisa kau tahu aku dibawa kesini..??”, tanya HyeJin. Luhan pun mengambil sebuah sepatu dari dalam mobilnya lalu menunjukkannya pada HyeJin.

“Ini.. Bagus kau meninggalkan ini tergeletak di jalan.”, terang LuHan sambil memakaikan sepatu higheels itu ke kaki kiri HyeJin.

HyeJin menatap LuHan yang ada tepat di hadapannya. “Kau terluka..”, gumam HyeJin.

“Mwo?! Jinja? Tapi tidak ada yang sakit kok.”, balas LuHan sambil tersenyum.  HyeJin pun menyentuh luka lebam di wajah LuHan ,lalu menekannya hingga LuHan kesakitan.

“Aww!!!! Appo, HyeJin-ah!! Aigooo…!”, pekik LuHan spontan.

“Bela diri mu sungguh buruk.”, ejek HyeJin.

“Ne, mianhe..”, balas LuHan lirih sambil menundukkan kepalanya.

“Untuk apa minta maaf? Kau kan sudah menolongku. Gomawo..”, ujar HyeJin. LuHan tersenyum membalasnya.

“HyeJin-ah, aku semakin yakin.”, ucap LuHan singkat.

“Mwo?!”, tanya HyeJin tak mengerti.

“Apa kau menyukaiku?”, tanya LuHan.

“Belum, sedikitpun belum.”, jawab HyeJin.

“Tapi meskipun belum, kau harus tetap menikah denganku!”, ucap LuHan.

“Aku tahu, tak ada alasan yang bagus untuk menolak paksaanmu.”

“Kau belum menyukaiku, tapi tadi kau bilang, kalau kau tak merelakan diriku pada JiYeon. Wae? Kau tahu, aku sangat terharu mendengarnya.”, ujar LuHan.

“Jinja?! Eummm… Entahlah..”, jawab HyeJin.

LuHan menghela nafas beratnya, “Kita harus segera menemui orangtuaku.”, lirih LuHan mulai menstarter mobilnya.

-Xi Family’s Home @ 11.00 KST-

*Author POV*

LuHan dan HyeJin sudah berada di depan rumah keluarga Xi LuHan yang mewah. “Kau sudah gila?!! Dengan penampilan kita yang seperti ini ,bagaimana bisa kita menemui keluargamu sekarang..??!”,

“Memang ada apa dengan penampilan kita? Penampilan mu tidak buruk, kau begitu cantik dengan gaun pemberianku ini.”, ujar LuHan santai.

“Kau!! Penampilan mu yang bermasalah! Luka mu itu bisa membuat orangtuamu marah!”, sentak HyeJin.

“Sekarang juga kita harus menemui orangtuaku. Tak ada waktu lagi, hanya sekali ini kesempatan kita. Gwaenchana.. Semua akan berjalan lancar.”, terang Luhan membuat HyeJin pasrah menurutinya.

Dengan perasaan gugup LuHan memperkenalkan Ok HyeJin pada kedua orangtuanya. Berbeda dengan LuHan yang terlihat sedikit gugup, HyeJin sama sekali tak merasa gugup, ia terlihat sangat tenang dengan senyumannya.

Ny.Xi mengajak HyeJin ke tamannya untuk mengobrol berdua. Sedangkan LuHan dilarang mengikuti mereka. LuHan tak tenang meninggalkan mereka berdua, ia takut umma’nya akan menjatuhkah HyeJin.

“Sudahlah.. Kau tenang saja! Umma mu tidak akan menjatuhkan harga diri HyeJin!”, ujar Tn.Xi menenangkan anaknya yang begitu gelisah.

“Tapi Appa.. HyeJin hanyalah yeoja biasa, pasti umma akan macam-macam dengannya ,karena HyeJin bukanlah seleranya.”, terang LuHan.

“Kau ini! Kau bilang dia yeoja biasa?! Appa tak melihatnya seperti itu. Auranya begitu mengagumkan! Dia seperti umma mu saat muda dulu. Aku yakin umma mu juga menyukainya!”, jelas Tn.Xi. LuHan pun menghela nafasnya.

“Ok HyeJin… Nama yang bagus. Ok berarti permata. Hye adalah perempuan anggun yang berintelijensi. Dan Jin artinya kebenaran kan? Ku harap kau seindah nama mu.”, ujar Ny.Xi.

“Saya sangat memahami makna nama itu, jadi saya tahu bagaimana menjaga nama baik saya ini.”, ujar HyeJin. Ny.Xi tersenyum tipis mendengarnya.

“Bagaimana keluargamu? Dan bagaimana pendidikanmu?”, tanya Ny.Xi.

“Status keluarga tidak setinggi keluarga Anda. Appa sudah meninggal, dan umma hanyalah seorang pegawai di rumah makan sederhana. Sejak kecil saya sekolah dengan mengandalkan beasiswa prestasi.”, jelas HyeJin tanpa ragu.

“Kau seangkatan dengan LuHan di universitas?”, tanya Ny.Xi lagi.

“Ne. Bulan depan saya akan lulus sebagai sarjana hukum, dan langsung diterima di kantor kejaksaan Seoul karena kemampuan saya sudah teruji.”, jawab HyeJin.

“Jinjayo? Kau yeoja yang mengagumkan. Aku bisa melihatnya dari auramu. Aku pikir akan lebih baik jika kalian tak berlama-lama pacaran. Pernikahan kalian akan kami adakan seminggu setelah kalian lulus.”, ujar Ny.Xi. Sontak HyeJin membulatkan kedua matanya, namun ia berusaha menutupi perasaan terkejutnya.

“Bulan depan?! Itu bagus!”, ucap LuHan semangat ketika ia dan HyeJin sudah berada di depan rumah HyeJin.

“Kenapa secepat itu, haa?!!!”, protes HyeJin.

“Ya mana kutahu!!”, pekik LuHan.

-Next Month-

-Beijing, China-

*Author POV*

Sehari setelah upacara pernikahan LuHan dan HyeJin dilaksanakan, mereka pergi ke Beijing untuk mengunjungi keluarga Xi LuHan yang tak sempat datang ke pernikahannya.

“Kita menginap di hotel? Bukankah kau punya keluarga disini?”, tanya HyeJin pada Luhan yang langsung membawanya ke sebuah hotel setibanya mereka di Beijing.

“Rumah keluargaku disini tidak besar. Aku takut kau tidak akan nyaman menginap disana.”, jawab LuHan menggandeng tangan HyeJin memasuki hotel.

“HyeJin-ah, pesanlah kamar! Aku lelah. Kau bisa bahasa mandarin kan? Kalau tidak bisa pakai bahasa inggris saja!”, pinta Luhan terduduk lemas di sofa loby hotel. HyeJin pun bergegas ke bagian receptionis.

“Ini. Aku di kamar 124. Dan kau kamar 125.”, ujar HyeJin menyerahkah salah satu kartu kamar yang ia pesan.

LuHan pun langsung beranjak dari duduknya. “Mwo??! Kau pesan 2 kamar?!”, kejut Luhan.

“Wae?”, balas HyeJin innoncent, lalu mengambil kopernya dan meninggalkan LuHan yang masih berdiri di tempat dengan raut wajah kecewa.

-Next Day-

*Author POV*

“Itu ada taksi! Ayo cepat!”, ajak LuHan mencegat(?) taksi di pinggir jalan.

“Shirreo! Kita naik bus umum saja!”, tolak HyeJin berjalan meninggalkan LuHan. LuHan pun mau tak mau mengikuti langkah HyeJin menuju halte terdekat.

Bus yang mereka tumpangi sudah penuh penumpang, terpaksa mereka pun harus berdiri di dalam bus yang sesak.

“Disana hanya ada 3 anggota keluarga ayahku. Nenek, Xi XiaoHan Ajumma, dan suaminya.”, terang LuHan pada HyeJin. Namun, HyeJin tak menanggapinya. Ia merasa tidak nyaman dengan namja asing yang terus menyesakinya(?). LuHan yang menyadarinya langsung berpindah tempat di hadapan HyeJin untuk menghalangi namja asing dari HyeJin.

HyeJin menatap LuHan kaget, dia merasa gugup berada di dekat LuHan.

“Salah sendiri tidak mau naik taksi!”, sindir LuHan membuat HyeJin lesu mendengarnya.

“Aku mohon jangan katakan itu di depanku!”, ujar HyeJin pelan. LuHan menatap HyeJin bingung. Tanpa menjelaskan apapun, HyeJin malah menyandarkan kepalanya di dada bidang LuHan. LuHan pun senang dan berusaha membuat HyeJin nyaman di dekatnya.

“Meili (cantik). Seharusnya aku yang memesan kamar kemarin.”, batin LuHan memandang kagum wajah HyeJin.

-Xi Family’s Home-

*Author POV*

HyeJin berjalan lemas mengikuti langkah LuHan. “Kalau tadi kita naik taksi, kau tak akan selemas ini.”, sindir LuHan setibanya di depan rumah keluarganya.

“Sudah ku bilang jangan katakan itu!!! Aku benci mendengarnya!!”, bentak HyeJin menatap kesal LuHan.

LuHan pun terdiam dan menatap HyeJin heran.

“Xi LuHan…!!”, sapa bibi LuHan keluar dari rumah itu menyambut kedatangan mereka. Mereka pun memberi salam, dan LuHan memperkenalkan HyeJin pada bibi dan keluarganya ketika mereka sudah berada di dalam rumah.

*LuHan POV*

Setelah lama berbincang-bincang dan makan bersama, kami pun memanfaatkan waktu kami berdua. Ku lihat HyeJin sedang mengamati sepeda tua yang tersandar pada dinding di halaman rumah nenek.

“Kau ingin menaikinya? Mau ku bonceng?”, tanyaku pada HyeJin.

“Namja yang biasa berkendaraan roda 4 seperti mu, mana bisa naik sepeda yang hanya beroda 2 ini..??!”, sindir HyeJin memandangku remeh.

“Mwo?! Aiiisshh, kau memandang remeh aku?! Enak saja! Kau sendiri?! Naik taksi saja takut!“, ujarku tak terima. Namun ia terdiam.

“Sudahlah! Ayo ku bonceng mengelilingi kompleks ini!”, lanjutku mengajak HyeJin.

“Shireo!! Aku saja yang memboncengmu!! Aku tidak yakin aku akan selamat jika kau yang membonceng!”, tolaknya.

“Yaa!!!! Kau ingin menjatuhkan harga diriku?!!”, protesku.

“Wae?! Oh.. Sebagai namja kau malu jika dibonceng oleh yeoja?! Kalau begitu….”, ujarnya sambil memasang raut berpikir. Namun, sedetik kemudian ia berlari memasuki rumah.

HyeJin pun keluar dengan memakai topi, lalu menghampiriku. “Menunduklah!”, suruhnya. Aku pun menunduk di hadapannya. Namun, apa yang dia lakukan. HyeJin menguncir(?) poni rambutku ke atas!

“Yaaa! Apa yang kau lakukan?!”, pekikku.

“Hahaha.. Kau sangat manis, Xi LuHan!!! Kkkk~ Ayo cepat naik!”, ujarnya dengan penuh tawa. Aku pun menurutinya, melihat tawanya emosiku teredam.

—-

“Yaa!!!! HyeJin-ah, pelan-pelan..!!”, teriakku cemas karena HyeJin mengayuh sepeda dengan cepat.

Ciiiiit.. HyeJin mengerem mendadak. “Aigoo…”, keluhku.

HyeJin turun dari sepeda dan menatapku remeh. “Payah!”, ejeknya lalu meninggalkanku yang masih lesu di jok sepeda.

Aku pun mengikuti HyeJin yang duduk di pinggir sungai. Aku memasang wajah cemberut, agar HyeJin merasa bersalah. Tapi sebaliknya, ia malah menertawaiku.

“Hahaha.. Wae?! Kau marah? Aku yakin kau tak akan bisa marah padaku.”, sindirnya. Aku pun semakin menggembungkan pipiku.

“Jangan pasang wajah seperti ikan! Kau akan semakin imut!”, ujarnya sambil mencubit pipiku membuatku tersenyum senang.

“Benar juga. Xi LuHan mana bisa marah dengan yeoja pujaannya?!”, ujarku.

“HyeJin-ah.. Boleh aku bertanya?”, lanjutku setelah beberapa saat kami terdiam. Namun HyeJin tak bergeming.

“Kau tak menyukai taksi, wae?”, tanyaku hati-hati. Masih tak ada jawaban darinya.

“Aku harus tahu alasan kenapa kau tak menyukai taksi. Jadi kau harus menjelaskannya! Jika tidak ,aku akan membahas hal ini berulang kali!”, ancamku agar ia angkat bicara.

“Karena taksi telah membawa appa ku pergi.”, jawabnya. Aku pun memperhatikannya seksama menunggu penjelasannya.

“Kau tahu kan Appa meninggal saat aku masih SMP. Appa tertabrak taksi tepat di depan mataku. Katanya rem taksi itu blong(?) hingga menabrak pejalan kaki, dan itu appa.”

“Eummmmm.. Tapi kau tidak benci mobil kan?”, tanyaku hati-hati.

“Asalkan mobil itu tidak ada tulisannya ‘taxi’ aku tidak akan mempersalahkannya.”, ujar HyeJin tanpa memandangku.

Kulihat raut wajah sedih HyeJin, “Apa kau merindukan Appa?”, tanyaku memecah keheningan.

“Tentu aku selalu merindukannya. Terutama rindu memeluk punggungnya yang hangat.”, jawab HyeJin tersenyum pahit.

Aku menatapnya teduh, ingin sekali aku memeluknya, tapi ku yakin dia akan berteriak menolakku.

“Sudah sore. Ayo kita pulang!”, ajaknya.

Aku pun langsung berdiri, dan berlari menuju tempat dimana sepedaku diparkir.

“Kali ini aku yang membonceng!”, seruku sudah bersiap-siap di kemudi sepeda.

“Lebih baik aku jalan kaki daripada kau bonceng! Aku tidak yakin kau…..”

Cup.. Aku mencium pipinya sekilas. Membuat rona wajah Hyejin memerah, “Jangan banyak protes!! Menurutlah padaku!!”, perintahku sambil melepas topi yang dikenakannya sedari tadi, lalu ku pakai. Karena ia tak kunjung berkutik, aku pun menarik HyeJin agar segera duduk boncengan(?) ku.

Aku juga menarik kedua tangannya ke depan agar menyabuk(?) ke pinggangku. “Jangan coba-coba melepas kedua tanganmu dari pinggangku! Arrasseo?!”, ujarku lalu mulai mengayuh sepeda ini dengan pelan.

Karena jalanan sepi, aku kayuh sepeda semakin cepat. Dapat ku rasakan HyeJin menyandarkan kepalanya ke punggungku dan mempererat pelukannya. “Apa dia takut?”, batinku.

Aku pun memperlambat kayuhanku. Namun posisi HyeJin tetap sama. “Apa dia sudah mulai nyaman berada di sisiku?”, pikirku sambil tersenyum bahagia.

*Author POV*

“Appa…”, lirih HyeJin menitikkan air matanya. Ia memeluk erat LuHan memboncengnya.

Sesampainya di rumah, HyeJin langsung turun dari sepeda dan berlari masuk rumah sembari menutupi wajahnya, LuHan yang sedang memarkirkan sepeda memandang HyeJin heran.

“HyeJin-ah.. Xi HyeJin.. Nyonya Xi…”, panggil LuHan mencari keberadaan istrinya. Dilihatnya HyeJin sedang berjongkok di depan bak yang berisi air di belakang rumah.

“Kau sedang apa?”, tanya LuHan menghampiri HyeJin yang sedang membasuh wajahnya dengan air.

“Sedang makan.”, jawab HyeJin asal.

“Mwo?!!”, kejut LuHan menatap heran istrinya.

“Kau buta?! Apa kau tidak bisa lihat aku sedang cuci muka?!”, sentak HyeJin kesal.

“Huuuhft.. Kau mulai galak lagi.. Eummm, airnya segar kan?”, balasku. HyeJin hanya mengangguk menjawabnya.

HyeJin beranjak mengambil handuk untuk mengeringkan wajahnya yang basah, lalu duduk di teras belakang diikuti LuHan.

“HyeJin-ah.. Kenapa kau mau menikah denganku?”, tanya LuHan membuat HyeJin menghentikan aktivitasnya.

“Bukankah kau yang memaksaku?”, balas HyeJin.

“Selain itu.. Alasan lain ,seperti karena kau menyukaiku.”, jelas LuHan.

“Eumm.. Karena kau adalah Xi LuHan. Namja yang memiliki status sosial yang tinggi, dan yang terpenting lagi kau sangat kaya.”, terang HyeJin.

“Hanya karena itu?”, tanya Luhan.

“Ne. Menikah denganmu bisa menaikkan statusku. Apa kau marah? Kau boleh menyebutku yeoja materialistis.”, ujar HyeJin.

“Berarti saat kau mengucapkan janji suci di depan pendeta, kau hanya mengucapkannya dengan asal tanpa menghayatinya?!”, tanya LuHan dengan nada sedikit tinggi.

“Eummm… Mungkin bisa disebut seperti itu.”, jawab HyeJin enteng. LuHan pun menghela nafasnya, dan berusaha tersenyum.

“Aku tidak akan marah, karena aku yakin kau akan menyukaiku nanti. Tapi jika alasan itu diketahui oleh umma ku, kau akan mati, begitu juga aku!”, terang LuHan.

“Asal kau tidak memberitahukannya pada umma, kita tidak akan mati. Kau hanya perlu tutup mulut dan menunggu!”, kata HyeJin santai beranjak dari duduknya.

Namun LuHan menahan tangan HyeJin. “Wo Ai Ni.”, ungkap LuHan tulus.

“gomawo.”, balas HyeJin tersenyum dan melepas tangannya dari genggaman LuHan, lalu beranjak masuk ke dalam rumah.

“Nado, ku harap itu jawabanmu.”, lirih LuHan.

-@08.30 PM-

*Author POV*

“Bibi Xi meminta kita untuk menginap malam ini.”, ujar LuHan.

“Mwo?!”, kejut HyeJin.

“Bibi Xi sudah menyiapkan kamar untuk kita, aku tidak enak hati menolaknya.”, terang LuHan. HyeJin pun menghela nafas, ia pun tak enak hati menolaknya atau memarahi LuHan.

LuHan dan HyeJin tidur beralaskan kasur lipat dalam satu kamar. HyeJin merasa risih tidur berhadapan dengan LuHan yang terus memandanginya penuh senyum. HyeJin pun membalikkan dirinya, tapi LuHan berpindah posisi ke hadapannnya lagi.

HyeJin membalikkan badannya lagi, LuHan pun berpindah posisi lagi, begitu pun seterusnya. Karena lelah mengikuti arah tidur HyeJin, LuHan pun menahan HyeJin agar tak berbalik.

“Jika begini, aku tidak akan bisa tidur.”, ungkap HyeJin menatap malas Luhan.

“Ada satu pertanyaan untukmu.”, kata Luhan.

“Apa?”, tanya HyeJin.

“Aku tanya sekali lagi, jawablah dengan jujur! Do you love me?”, tanya LuHan menatapnya dalam.

“No.”, jawab HyeJin singkat.

……

next?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s