FF >> “Love at First Sight” (1/2)

LuHan Yoong

 

 

Love at First Sight

Author : Lee TaeRin [Tarin]

Cast : EXO-M’s LuHan, EXO-M’s Chen, Ok HyeJin (OC)

Genre : Romance

Rating : PG-16

Lenght : TwoShoot (1/2)

 

 

Annyeong Haseyo ^^/ Author Rin pnya new ff.. Pengin nglanjutin WiL season slanjutny, tp msh blum da ide pngembang(?) bwt SeHun/BaekHyun/SuHo. >_

Tp kyakny ni gaje dch,, ni iseng” aja ideny mncul tiba”.. hehehe:D

Happy Reading^^

 

 

*LuHan POV*

Namaku Xi LuHan. Aku adalah  anak dari pengusaha asal China yang sukses di Seoul, Tuan Xi WuHan.Sedangkan Ibuku? Ibuku adalah seorang designer di Seoul, Kim SoonHye. Karena saking cintanya pada Ny.Kim SoonHye, Tn.Xi WuHan rela meninggalkan bisnisnya di China dan mengembangkan perusahaan fashion’nya di Seoul bersama sang pujaannya itu, ibuku. Haha^^ 

 

-Xi Family’s Home-

*LuHan POV*

“Kau adalah pewaris utama SXI Group kan..??! Setauku, perjodohan itu sudah menjadi adat para kalangan sepertimu. Menikah dengan gadis pilihan orang tua, itu adalah kewajibanmu sebagai pewaris perusahaan.”, kata-kata Chen terngiang-ngiang di kepalaku.

“Aah!!! Tidak!! Shireo!!! Aku tidak mau mengikuti adat itu!! Apa cinta itu bisa dipaksakan?? Tidak! Tidak!”, gumamku menghilangkan bayangan pernikahan atas dasar keuntungan bisnis itu.

“Tuan Muda,, Anda dipanggil oleh Presdir Xi di ruangannya.”, ucap salah satu pelayanku. “Baik.”, jawabku singkat lalu menuju ke ruang kerja appaku.

“Anakku.. Ada sesuatu yang ingin appa tanyakan padamu.”, ucap appa tersenyum lembut padaku. “Silahkan saja appa..”, jawabku membalas senyumannya.

“Tidak lama lagi, mungkin kau akan diangkat sebagai pewaris resmi SXI Group. Sudah waktunya kau segera mencari pendamping hidup. Yang ingin appa tanyakan adalah, kau ingin dijodohkan atau mencari pendamping sendiri??”

Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaan appa. “Uhmmm, aku ingin sedikit bebas mencari calon istriku sendiri. Aku tidak ingin pernikahanku atas dasar urusan bisnis belaka, Appa. Tolong, izinkan aku untuk mencarinya sendiri..”, jawabku hati-hati.

Appa terkekeh, “Baiklah.. Appa sudah menduga jawabanmu itu. Apa kau sudah menemukannya sekarang?? Bagaimana tipe yeojamu??”

Aku tersenyum, “Sekarang aku belum menemukannya. Aku menyukai yeoja yang memiliki mata yang indah, berkepribadian sederhana, ceria, dan senantiasa menyemangatiku. Ku harap kami bisa saling melengkapi.”, jawabku.

“Aku harap kau segera menemukannya. Kalau tidak, aku akan mencarikan yeoja yang menurut kami pantas untuk mu. Ne?”

“Uhmm,, Bagaimana kalau yeoja yang ku sukai dan ku cintai nanti bukan dari kalangan atas..?? Apa kau mengizinkannya, Appa???”, tanyaku hati-hati.

Appa tersenyum menanggapi pertanyaanku. Kemudian ia menjawab, “LuHan, menurut appa kedudukan setiap orang sama, jadi Appa tidak mempermasalahkan itu. Jika dia jodohmu, dan asal dia mampu mendampingimu dengan baik, aku akan merestuinya. Tapi, mungkin akan sulit membujuk umma mu untuk masalah ini, dia pasti ingin mendapat menantu yang sepadan dengan kita. Sebelum umma mu mencarikanmu calon anae, lebih baik sekarang kau segera memberitahunya soal ini!”, terang appa.

“Bibi,, apa kau tau umma dimana??”, tanyaku pada seorang pelayan.

“Oh, Nyonya Xi sedang berkebun di halaman belakang, Tuan muda.”, jawabnya. “Okay!”, ucapku lalu segera menemui umma.

 

-Xi Family’s Garden-

*LuHan POV*

“Umma, aku sudah membicarakan ini dengan appa.. Dan appa menyetujuinya kok.”, ujarku sedikit merayu.

“Tidak!! Umma TIDAK SETUJU!!! Umma akan mencarikan yeoja yang cantik, pintar, berkepribadian baik dan anggun, dan yang lebih penting lagi adalah setara dengan kedudukan keluarga kita, arrachi..?!!”, ujar umma sambil merapikan tanaman-tanaman kesayangannya.

“Aku tidak peduli. Aku tidak setuju dengan umma. Setidaknya ada satu pendukungku, yaitu appa!”, kataku tak mau kalah.

“LuHan, umma melakukan ini juga demi kebaikanmu!”, ujar umma sedikit lembut.

“Tapi bukan begini caranya, umma.. Tolong mengertilah..”, aku memelas pada ummaku.

“Terserah! Aku beri kau waktu seminggu untuk menemukan calon pendampingmu! Jika tidak, akan ku carikan kau yeoja pilihan umma, arrachi??!! Tapi awas!! Jangan coba-coba mencari yeoja asal-asalan!! Kalian harus saling mencintai!!”, terang umma.

“Mwo..???!! Seminggu??!”, seruku.

“Wae?? Terlalu lama?? Kalau begitu besok?? Ottae..??”

“Baik-baik!! Seminggu, ne?!”

 

 

-Seoul University-

*LuHan POV*

“Chen-i,, otteokhae??? Bagaimana bisa aku menemukan calon anae yang benar-benar ku cintai dalam waktu seminggu??? Umma ku itu memang benar-benar…. aiisshh!!!!”, keluhku pada sahabatku Chen.

“Apa boleh buat..?! Kau juga siih,,, sudah setua ini tapi sampai sekarang kau belum punya yeojachingu. Setidaknya kau beruntung masih diberi kesempatan untuk mencari your true love sendiri.. Uhmm….”, sejenak Chen berpikir. Ku harap bukan ide pernikahan kontrak yang ada di otaknya.

“Love at First Sight!!!”, serunya. “Mwo??!!”, aku sedikit terkejut dengan seruannya itu.

“Yaa itu!! Dalam seminggu ini kau harus mengalami Love at first sight!!”, ujarnya. Aku sedikit tidak mengerti.

 

-Seoul University’s Library-

*Author POV*

Xi LuHan berdiri di depan barisan buku yang tersusun rapi, tapi tak satu pun buku yang ada di sekelilingnya ia sentuh. Dia sedang memikirkan, bagaimana menemukan yeoja idamannya dalam waktu seminggu. Dia menghela nafasnya, “Haaah~ Ku harap takdirku baik minggu ini..” lirihnya. Lalu tanpa sengaja matanya menangkap sebuah buku fiksi yang berjudul LOVE AT FIRST SIGHT?

LuHan teringat pesan Chen tadi, “Dalam seminggu ini kau harus mengalami Love at first sight!!”

“Cinta Pada Pandangan Pertama??”, gumam LuHan dan mulai membuka buku itu.

—-

Di sepanjang perjalanan LuHan hanya fokus dengan buku bacaannya itu.  Sambil tersenyum-tersenyum sendiri membaca buku fiksi itu. Dia mengelilingi halaman kampus, tanpa ia sadari.

“Hei!!!!! Awasss!!!!!!!”, seru seorang yeoja yang sedang mengayuh sepedanya cepat.

Bruuuuukkk!!!!

“Aigoo…..!!!! Hei, apa kedua mata mu itu tidak berfungsi, haa..?!”, seru yeoja itu sambil memegangi dahinya yang tergores.

Xi LuHan sedang sibuk membersihkan diri, dan memeriksa sikunya yang terluka. “Uuuh.. Appo! Ya!!!! Apa rem mu itu tidak…….”, keluh LuHan, namun keluhannya terputus ketika ia melihat gadis yang ada di hadapannya.

“Aiiiish!! Mata itu tidak hanya digunakan untuk membaca!! Tapi juga untuk melihat jalan!! Babo! Hiks..hiks..hiks..  bagaimana ini..?!! Omona~~ Sepedaku..”, keluh gadis itu menatap LuHan tajam. LuHan sendiri hanya bisa terpaku, pandangannya tak lepas dari yeoja tersebut.

“Ya Tuhan~~ Selain buta kau juga tuli yaa..??!”, yeoja itu kesal lalu pergi meninggalkan LuHan yang masih diam terduduk di tanah, mungkin akal sehatnya sedikit error. Kkkkkk~

 

-LuHan’s Room-

*Author POV*

Xi LuHan memandang langit-langit kamarnya, “Gadis sepeda itu..”, gumamnya tersenyum.

“Kau sedang jatuh cinta yaa??”, tanya Mr.Xi yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar LuHan. LuHan segera bangkit dari kasurnya, karena kaget. “Omo!! Kau mengagetkanku, Appa!!”, serunya melihat Appa’nya sudah duduk di kasurnya.

Mr.Xi tertawa, “Kau bahkan tak mendengar suara aku mengetuk pintu kamarmu tadi??! Siapa gadis yang berhasil membuat saraf-sarafmu itu terganggu??”, sindir Mr.Xi.

“Hehe.. Bagaimana appa bisa tahu?? Lihat sikuku, appa!! Gadis itu menabrakku dengan sepedanya!! Aiiiiish,, luka ini sangat menyakitkan!! Tapi.. akan lebih menyakitkan lagi kalau aku tak berhasil mendapatkannya.”, keluh LuHan.

“Hahaha.. Kalau begitu kau harus mendapatkannya!!”, jawab Mr.Xi.

“Kalau tidak..?”, tanya Luhan.

“Terpaksa kau harus mendapatkannya dengan cara paksa!”, saran Mr.Xi santai lalu meninggalkan kamar.

 

 

-Next Day @ Seoul University-

*Author POV*

“Hei!!! Gadis Sepeda!!!”, teriak Xi LuHan mengejar yeoja yang menabraknya kemarin. Yeoja itu mengerutkan keningnya ketika LuHan berada di hadapannya.

“Kau ingat aku? Ini!! Ini meninggalkan bekas! Aku ingin pertanggungjawabanmu!”, seru LuHan sambil menunjukkan luka di sikunya yang diplester.

“Mwo?!”, kejut yeoja itu. Dia memutar bola matanya, dan menatap LuHan kesal. Lalu beranjak meninggalkan LuHan, karena malas meladeninya.

“Yaa!!! Kajima!!”, teriak LuHan mengejar yeoja itu.

Setelah kuliahnya selesai, LuHan bergegas mencari yeoja itu lagi. Tak butuh waktu lama, LuHan menemukannya sedang membaca buku di bangku taman. Ia segera menghampirinya. “Aiiiish!! Kau lagi!”, dengus yeoja itu memandang malas LuHan yang sudah berdiri di hadapannya.

“Kau harus bertanggung jawab!!”, seru LuHan.

Yeoja itu pun meletakkan bukunya di bangku yang ia duduki, dan berdiri menatap LuHan tajam. “Kau itu benar-benar!! Memangnya kau saja yang dirugikan karena kecelakaan kecil itu?!! Karena mu dahiku terluka, selain itu sepedaku juga rusak. Tapi aku tak minta apapun darimu! Lalu kau, luka kecil seperti itu saja minta pertanggung jawaban?!! Kau minta aku bertanggung jawab bagaimana?? Apa?! Apa maumu??!”, sentak yeoja itu panjang lebar.

“Kau.”, singkat LuHan.

“Mwo??!”, tanya yeoja itu tak mengerti. Tanpa basa-basi lagi, LuHan menarik tangan yeoja itu, agar mengikuti langkahnya.

“Yaaa!! Lepaskan!!”, pekik yeoja itu namun tak dipedulikan.

LuHan mendorong yeoja itu masuk ke dalam mobilnya. “Kau mau membawaku kemana??!”, tanya yeoja itu kesal. Namun, tak ada jawaban dari LuHan, ia masih terfokus di kemudinya.

“Ah! Kau mau membawaku ke kantor polisi? Hahaha.. Kau akan dianggap orang gila karena melaporkan hal sepele seperti ini!!”, tebak yeoja itu.

“Dimana rumah mu?”, tanya LuHan.

“Mwo??! Untuk apa kau tahu rumahku?!”

“Kau mau ku antar pulang tidak..?!”, seru LuHan membuat yeoja itu menatapnya heran.

“Turunkan aku disini!”, pinta yeoja itu.

“Mana rumahmu?”, tanya LuHan menghentikan mobilnya di pinggir jalan sembari celingukan.

Yeoja itu keluar dari mobil LuHan. “Kau pikir aku akan memberitahukannya. Pergilah!”, ujar yeoja itu santai sebelum ia menutup pintu mobil LuHan, dan pergi.

“Hei!!!”, teriak LuHan. Ia ingin mengejarnya, tapi ia mengurungkannya. Karena ia punya cara lain.

LuHan membalikkan mobilnya, seolah-olah ia mau pergi dan tidak peduli yeoja itu mau kemana. Yeoja itu terus berjalan, dan ia menoleh ke tempat LuHan menurunkannya tadi. “Bagus!! Akhirnya dia pergi juga!!”, batin yeoja itu tersenyum melihat mobil LuHan sudah berbalik meninggalkannya.

“Umma….! Aku pulang..!”, seru yeoja itu memasuki rumahnya. “Ok HyeJin… Kau pulang lebih awal? Bagus! Umma sudah memasakkan hidangan special hari ini. Cepat kau mandi dulu sana!!”, ujar yeoja paruh baya menyambut anak semata wayangnya, Ok HyeJin.

“Ada seorang namja yang menyebalkan, umma. Jadi aku ingin segera pulang.. Omona!! Umma, masakan ini?! Bukankah kondisi keuangan kita bulan ini sedang memburuk, kenapa umma memasak makanan sebanyak ini?? Boros..!”, keluh yeoja yang bernama HyeJin itu sembari memandangi makanan yang memenuhi meja makannya.

“Tidak apa-apa, hari ini umma mendapat bonus. Ayo cepat mandi sana!!”, perintah ummanya.

Tok..tok..tok..

“Annyeong Hasimnikka.. Joneun Xi LuHan imnida.”, sapa seorang namja yang mengetuk pintu rumah HyeJin.

Umma HyeJin yang membukakan pintu memandang kagum LuHan. “Ne. Apa kau teman HyeJin? Masuklah..”, ucap umma HyeJin ramah mempersilahkan LuHan masuk ke dalam rumah.

*LuHan POV*

“HyeJin..?? Ku harap itu nama yeoja yang ku cari.”, batinku memasuki rumah sederhananya.

“LuHan-sshi, apa kau sudah makan? Kebetulan ajumma memasak banyak makanan hari ini, makanlah disini, ne?! Ajumma sangat senang ada teman HyeJin yang datang kemari.”, ungkap ajumma padaku.

“Umma’nya begitu hangat dan ramah, tapi kenapa anaknya tak seramah umma’nya?!”, batinku mengingat yeoja itu.

“Gamsahabnida..”, ucapku tersenyum manis.

“Ajumma, aku boleh sering-sering kemari kan?”, tanyaku semangat. Ajumma pun tertawa. “Tentu. Selama ini Ok HyeJin jarang sekali membawa temannya ke rumah. Jadi saat kau datang, ajumma sangat senang.”, jawabnya.

“Baiklah, aku janji aku akan membawakan bingkisan untuk ajumma setiap kemari.”, kataku mantab.

“Eumm, Kalau itu ajumma tidak akan menolak. Kau namja yang tampan dan baik hati. Pasti banyak yeoja yang menyukaimu?”, pujinya.

“Jinja?? Eumm, tapi kenapa anak ajumma si HyeJin itu tak tertarik padaku?”, ungkapku lesu.

“Mwo?!”, tanya ajumma tak mengerti.

“Aku satu universitas dengannya, tapi aku baru mengenalnya beberapa hari ini. Dan saat itu juga, Aku menyukai HyeJin. Tapi sepertinya, dia tak menyukaiku.”, ungkapku memasang raut sedih.

Tak lama kemudian yeoja yang ku tunggu-tunggu keluar juga. Yeoja itu menghampiri kami dengan handuk yang masih melilit rambutnya. “Umma… Kenapa airnya…?”, teriaknya terhenti ketika melihatku duduk manis di hadapan umma’nya.

“Yaa!!! Bagaimana bisa kau kemari??!!”, serunya menatapku tak percaya. Aku hanya tersenyum manis padanya.

“Umma, kenapa umma memasukkan namja ini ke rumah kita??! Dia orang asing!”, terang HyeJin.

“Mwoya??! Kau ini bagaimana?! Dia kan satu universitas dengan mu, HyeJin-ah..”, jawab ummanya.

“Umma…. Aku bahkan tidak tahu namanya..!”, rengeknya.

“Xi LuHan. Namaku Xi LuHan. Sekarang kau sudah tahu nama ku kan? Jadi tidak ada masalah.”, ujarku enteng.

“Benar. Walau umma tidak tahu bagaimana hubungan kalian, umma yakin LuHan adalah namja yang baik. Jadi kau jangan memandangnya sebagai orang asing!”, seru umma yang membelaku. Aku hanya menahan tawa melihat ekspresi kesal HyeJin memandangku.

“Sudahlah, HyeJin memang sedikit sok jual mahal. Ayo makanlah..!”, ujar ajumma padaku. Aku pun mengambil sumpitku dan mulai memakan masakan buatan ajumma.

“Eumm, masshita…!”, pujiku.

“Jongmal? Kalau begitu makanlah yang banyak! HyeJin-ah, ayo makan!”, ajak ajumma. Namun HyeJin malah keluar rumah meninggalkan kami berdua.

“Aku tidak mau makan!”, kesalnya menutup pintu rumahnya.

“Aiiish!! Dasar babo yeoja!!”, dengus kesal ajumma.

“Setelah selesai makan, ceritakan semuanya tentang hubunganmu dengan HyeJin! Kau janji, ne?!”, pinta ajumma padaku.

“Aku akan menceritakannya, kalau ajumma juga ikut makan.”, ujarku mengambilkan daging ke dalam mangkoknya.

“Kau ini..”, gumamnya malu-malu.

“………….. Jadi karena kecelakaan kecil itu, ajumma. Tapi aku bisa menebak, kalau HyeJin bukan tipe yeoja yang mudah didekati. Oleh karena itu, caraku mendekatinya sedikit paksa dan terburu-buru, karena waktuku tidak banyak.”, terangku.

“Kau yakin? Kalau kau jatuh cinta padanya?”, tanya ajumma memastikan.

“Ne. Aku sangat yakin. Tolong bantu aku ,ajumma..”, pintaku.

“Ok HyeJin hanyalah yeoja biasa, status sosial keluarga kami pun juga tak begitu bagus. Sedangkan kau adalah pewaris SXI Group yang terkenal itu. Ajumma takut hal ini bisa menjadi masalah.”, ungkapnya.

“Aku pastikan status, kedudukan sosial tak akan menjadi masalah di antara kami. Aku yakin orang tuaku akan menerima HyeJin apa adanya.”, ujarku meyakinkan ajumma.

*Author POV*

Setelah perbincangannya dengan umma HyeJin selesai, LuHan pun pamit pulang.

“Kau!”, seru HyeJin pada LuHan yang hendak memasuki  mobilnya.

“HyeJin-ah, panggil aku LuHan..!”, pinta LuHan tersenyum manis menanggapi seruan HyeJin.

“Sebenarnya apa mau mu?!”, tanya HyeJin dengan nada mengeluh.

LuHan pun mendekati HyeJin, dan menatapnya dalam. “Kau, HyeJin-ah.”, jawab LuHan lagi-lagi dengan senyuman manisnya.

“Mwo?!! Aku?!”, kejut HyeJin menatap LuHan bingung.

Senyuman LuHan pun hilang dan langsung memandang remeh HyeJin. “Kau tak paham juga?! Aku ingin kau menjadi istriku. Kau mengerti?!”, terang LuHan tegas, kali ini tanpa senyuman.

“Mwo?!!! Kau sudah gila?!!”, pekik HyeJin membulatkan kedua matanya.

“Iya, Aku gila. Dan itu juga karena mu! Jadi kau harus bertanggung jawab!!”, jawab LuHan dengan penuh penekanan. Ia pun beranjak ke mobilnya meninggalkan HyeJin yang masih terpaku.

 

 

*HyeJin POV*

“Ku harap aku tak bertemu namja itu lagi.”, batinku celingukan menelusuri koridor kampus. Setelah ku pastikan tak ada namja itu di sekitarku,  aku pun berjalan santai, dan memasang earphone ku.

Tiba-tiba ada seseorang yang menyabut earphoneku dari saku cardiganku, “Haha.. Kau mengikuti cara yang ada di drama-drama ya?! Cara ini sudah sangat kuno.”, sindirnya.

“Kau ini..! Apa kau tak mampu mp3 players atau sejenisnya?”, ejeknya lagi. Earphone ku memang sengaja tak ku sambungkan pada mp3 players.

“Iya, aku tak mampu membeli barang seperti itu. Earphone ini saja aku temukan di tong sampah. Masalah buat mu?!!”, sentakku.

Aku pun menyaut earphoneku, lalu meninggalkannya. Tapi ia menahan lenganku. “Xi LuHan…!”, kesalku menatapnya.

“Akhirnya kau memanggil namaku.”, ujarnya tersenyum senang. Aku menatapnya malas dan menghela nafasku. “Apa kau begitu ingin aku menjadi..?”, tanyaku terputus.

“Iya! Aku menyukaimu, aku tidak main-main. Sungguh!!”, jawabnya dengan raut serius.

“Kau namja yang tak suka basa-basi ya?! Aku suka itu, tapi beri aku waktu.” Ujarku.

“Kita tidak punya waktu banyak, HyeJin-ah.”, rengeknya padaku.

“Mwo??! Memangnya besok dunia akan kiamat?!”, pekikku mendengar rengekannya yang tak jelas.

“Mungkin saja kan?!”, jawabnya.

“Kau ini…! Tapi aku mohon untuk beberapa hari ini jangan usik aku, ne?!”, pintaku memasang raut memohon. LuHan pun melepas tangannya dari lenganku.

“Baiklah. Mianhe aku sudah membuatmu tak nyaman.”, ujarnya lirih dan meninggalkanku dengan langkah lesu.

“Kenapa aku malah merasa bersalah padanya?”, pikirku menatapnya yang mulai menjauh.

 

 

-4 days later-

*Author POV*

“HyeJin-ah…!!!! Kenapa kau baru pulang, ha??!”, seru umma HyeJin menyambut anaknya yang baru masuk rumah.

“Ini akhir minggu, umma. Rumah makan Shin ajumma sangat ramai.”, jawab HyeJin lelah.

“Kau ini…! Kau anak yang pekerja keras! Umma bangga dan sangat menyayangimu. Tapi umma akan lebih bahagia lagi jika umma mempunyai menantu seperti LuHan.”, ujar umma HyeJin.

“Umma….”, rengek HyeJin.

“Jam 8, LuHan menunggumu di taman dekat rumah. Sudah waktunya kau memutuskan pilihanmu, menerimanya atau menolaknya.”

“Kenapa harus menunggu di taman dekat rumah? Kenapa tidak langsung kemari saja?!”, keluh HyeJin.

“Kau mengharapkan dia kemari?”, goda umma’nya.

“Tidak! Itu karena… Itu agar aku tak usah repot-repot kesana dan segera menolaknya!”, elak HyeJin.

Pletaaakkkk… “Babo yeoja!! Kalau aku jadi kau, aku tidak akan menyiakan kesempatan ini!! Tadi LuHan sudah kemari, dan memberikan sebuah gaun dan sepasang sepatu yang cantik untukmu. Cepat berdandanlah!”, terang ummanya menjitak kepala HyeJin.

“Awww!! Kalau begitu umma saja yang menikah dengannya!”, kesal HyeJin masuk ke dalam kamarnya.

*HyeJin POV*

Aku memasuki kamarku dan menguncinya dengan perasaan yang kesal. Aku melihat gaun cantik di tempat tidurku. “Haruskah aku menerimanya?”, gumamku menyentuh gaun itu dan memandangi sepasang sepatu yang serasi dengan gaun itu.

Aku memandangi jam di meja tempat tidurku, jarum jam itu menunjukkan pukul 8.

“Sekalipun pendidikan mu tinggi, dan cita-citamu menjadi seorang jaksa tercapai, tetap saja kau akan dipandang sebelah mata dengan status keluargamu yang berada di kelas bawah!! Umma yakin keluarga Xi LuHan bisa menerima mu apa adanya. Kau yeoja yang jujur, cerdas dan rajin, bagaimana bisa mereka menolakmu sebagai menantu mereka?! Namja itu, Xi LuHan akan mengangkat mu, dan keluarga kita. Apa kau ingin hidup di lingkungan yang tak terpandang seperti ini terus sampai kau mati? Terimalah LuHan sebagai pendampingmu, HyeJin-ah. Percayalah restu orangtua!”, kata-kata umma beberapa hari lalu terngiang di benakku. Aku pun berpikir sejenak, memikirkan masa depan yang ku inginkan selama ini.

-30 minutes later-

*Author POV*

“Baru 30 menit.”, gumam LuHan meratapi jarum jam tangannya yang terus berdetik(?) sembari mondar-mandir. LuHan menghela nafasnya, lalu menyandarkan tubuhnya di badan mobilnya.

“40 menit. Yaa!!! Apa ini bisa disebut terlambat?!!”, seru LuHan mulai kesal menunggu HyeJin.

“Apa dia tidak mau datang?”, lirihnya menatap sendu jalanan sepi rumah HyeJin yang tak sedikit pun menunjukkan kedatangan HyeJin.

“Umma, LuHan menungguku di taman dekat rumah kan?!”, seru HyeJin berlari keluar kamar.

“Iya..”, jawab umma HyeJin yang masih sibuk menjahit baju. “Yaa..! HyeJin-ah..!! Baguss!! Cepat temui dia!!”, pekik umma HyeJin senang menyadari putrinya sudah memakai gaun pemberian LuHan. HyeJin membuka pintu dan berlari keluar tanpa menggubris pekikan ummanya.

“Apa yang harus ku lakukan selanjutnya?”, gumam HyeJin memandang LuHan yang sedang membelakanginya. Raut wajahnya begitu resah. Kakinya terasa berat untuk melangkah mendekati Luhan.

“Ehem..Ehem.. Mianhe.. Aku terlambat..”, lirih HyeJin melatih vokalnya sebelum menemui Luhan.

“Aiiiish!! Untuk apa aku minta maaf padanya.”, gerutu HyeJin menatap kesal LuHan dari kejauhan.

Mau tak mau HyeJin pun melanjutkan langkahnya yang terhenti.

Namun langkah HyeJin terhenti oleh seseorang yang membekapnya dari belakang.

“Eummbb… Eummb..” Bruuk… Tubuh HyeJin lemas di dalam dekapan orang yang membekapnya tersebut. Lalu membawa HyeJin pergi.

 

 

..TBC..

 

Gimana? gimana?? Jelek yaa?? gaje yaa?? #banjirAirmata#

Hayo,,,, tebak! tebak! Siapa yng nyulik HyeJin??! 

Yg tebakannya bener author kasih hadiah…😛 #DILARANG REQUEST BIAS, DILARANG MINTA UANG# hehehe^^

Remember! remember! RCL yaa..! Komen wajib demi kebaikan semangat author..😀

Gomawoyo..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s