KEBIJAKAN SOSIAL DI INDONESIA: TELAAN DALAM PERSPEKTIF KAJIAN PEMBANGUNAN KESEHTERAAN SOSIAL

terima kasih

Didit Susiyanto

gysocpolPOSISI KEBIJAKAN SOSIAL DALAM PEMBANGUNAN KESEJAHTERAAN SOSIAL

Membahas tentang kebijakan sosial tidak bisa dilepaskan dalam pembangunan kesejahteraan sosial saat ini. Kebijakan sosial merupakan instrumen dari peningkatan kualitas derajat kehidupan masyarakat dengan melalui mekanisme yang terarah dan terpadu. Mekanisme yang dibuat dalam kebijakan sosial bertujuan untuk mengantisipasi dan mengatasi masalah-masalah sosial dan menunjang taraf peingkatan taraf hidup, menjamin keadilan sosial dan memperluas kesempatan bagi setiap orang untuk mengembangkan secara maksimal kapasitasnya sebagai warga negara yang sehat, terdidik, partisipasi dan mampu menjalankan peranan-peranan sosialnya di masyarakat.

Dalam kaitannya ini, tidak dapat diragukan lagi bahwa pengadaan berbagai fasiitas pemenuhan kebutuhan, pemerataan atar golongan, pengintegrasian masyarakat, pengentasan kemiskinan, penyediaan lapangan kerja dan peningkatan keadilan sosial harus diantisipasi melalui pelayanan sosial. Dengan demikian kebijakan sosial hadir sebagai cara untuk memecahkan masalah sosial dan memenuhi kebutuhan sosial bagi semua golongan masyarakat yang mempermudah dan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menanggapi perubahan sosial. Lebih lanjut Suharto (2005, h…

Lihat pos aslinya 3.801 kata lagi

FF >> WHAT IS LOVE? :: (IV) “IT’S YOU” (3/3)

EXO-K's BaekHyunWHAT IS LOVE? IV

EXO-K’s BaekHyun
WHAT IS LOVE? IV

 

WHAT IS LOVE? [BaekHyun ver.] :: It’s You

 

Author       : Lee TaeRin [TarinWish]

Cast         :

  • EXO-K’s BaekHyun as Byun BaekHyun
  • Lee JunHee (OC)
  • EXO-M’s XiuMin as XiuMin a.k.a Kim MinSeok
  • EXO-K’s SeHun as Oh SeHun

Rating : PG-15

Genre : Romance

 

 

Riners tercinta,, jngan lupa nyiapin komen yaa… ^D^ Ini the last lhooh,,, jdi komen yg panjang sngat aQ hrapkan.. hehehe^^V

Happy Reading^^/

 

 

*Author POV*

“Byun BaekHyun!!! Cepat banguun!!!”, teriak XiuMin membangunkan BaekHyun yang masih berkumul selimut.

“Byun BaekHyun!!!! Lee JunHee datang!!!”, seru XiuMin lagi. Seketika BaekHyun terduduk mencari-cari yeoja yang XiuMin sebut.

“JunHee?! Eodiga?”, tanya BaekHyun celingukan.

“Apa mungkin yeoja itu kemari? Babo!”, hardik Xiumin.

BaekHyun pun menghempaskan tubuhnya ke kasur lagi.

 

“Ada apa? Kau terlihat begitu menyedihkan!”, tanya XiuMin cemas.

“Perayaan ulang tahun yang buruk. Pasti sangat buruk baginya. Aku dan JunHee bertengkar kemarin. Dan bodohnya aku tidak mengejar kepergiannya.”, cerita BaekHyun.

“Mwo?! Waeyo?”, kejut XiuMin bertanya.

“XiuMinSeok!! Kemarin dia bilang padaku ,kalau aktingku ini bagus. Apa maksudnya ? Aku tidak mengerti.”, ujar BaekHyun dengan raut berpikir.

“Jinja? Eumm,, itu…. Mungkin…. Itu..”, ucap XiuMin begitu ragu-ragu.

“Kau tahu sesuatu? Kau tahu maksud dari ucapannya itu?”, tanya BaekHyun penasaran.

 

“Mianhe, BaekHyun-i. Sebenarnya… JunHee.. Lee JunHee sudah mengetahuinya.”, terang XiuMin menyesal.

“Mwo?!! Apa maksudmu? Mengetahui apa?”, tanya BaekHyun bertubi-tubi.

Namun XiuMin tak menjawabnya, ia hanya menundukkan kepalanya meratapi perasaan penuh sesalnya.

“JunHee.. Dia tahu bahwa ia adalah yeoja taruhan?”, tebak BaekHyun hati-hati.

“Mianhe..”, lirih XiuMin.

 

[FLASHBACK ON]

*MinSeok POV*

“Kim MinSeok!”, panggil seorang yeoja menghentikan langkahku.

“Oh, Lee JunHee..”, balasku ramah pada yeoja yang ku kenal itu.

 

Plaakkkk… JunHee menampar pipiku.

Sontak aku memegangi bekas tamparan yang menyakitkan dan mengejutkanku itu. Aku menatapnya penuh tanya.

“Kau!! Ah, ani!! Kalian brengsek!!”, umpat JunHee di hadapanku.

“Apa maksudmu?”, tanyaku tak mengerti.

“Aku sudah tahu. Kalian berdua, kau dan Byun BaekHyun hanya menjadikanku yeoja taruhan.”, terang JunHee bernada dingin.

“Mwo?! Ka.. kami… hanya.. Mianhe.”, ungkapku gugup.

 

JunHee tersenyum kecut padaku. “Tapi tenang saja. Aku tidak akan memutuskannya atau marah-marah padanya.”, ujar JunHee.

“Jangan beritahu hal ini pada Byun BaekHyun! Kalau kau mengatakannya, aku akan melakukan hal seperti yang telah kau duga!”, ancamnya.

“Membunuhnya dengan cairan-cairan kimia yang mematikan, jika kau memberitahukannya, bahwa aku telah mengetahui aku hanya yeoja taruhan!”, lanjutnya lagi.

Aku hanya bisa menelan ludahku paksa, tak sanggup lagi aku mengelak, karena memang benar kenyataannya. Wajar kalau JunHee marah.

 

“JunHee-ya…! Tunggu!”, cegahku ketika ia beranjak dari hadapanku.

“Tapi BaekHyun benar-benar menyayangimu! Percayalah padaku!”, ujarku. Namun ia tak menghiraukannya.

[FLASHBACK OFF]

 

*Author POV*

“Mianhe.. Aku takut mengatakan hal ini padamu sebelumnya.”, ungkap MinSeok menyesal.

BaekHyun memandang lemah MinSeok.

“Jadi selama ini JunHee sudah mengetahuinya? Kim MinSeok, bagaimana bisa kau membiarkanku dan JunHee seperti ini? Ini lebih buruk!! Lebih baik, JunHee marah-marah padaku langsung!!”, ujar BaekHyun frustasi.

“Mianhe.. Aku melakukan itu, karena aku takut jika JunHee akan memutuskanmu hingga membuatmu sedih. Aku kan tahu, kalau kau begitu menyayanginya.”, terang MinSeok.

Tapi hal itu masih belum membuatnya tenang, ia masih marah pada MinSeok, terlebih pada dirinya sendiri.

BaekHyun pun bergegas meninggalkan apartemennya untuk menemui JunHee.

—–

BaekHyun menekan tombol rumah JunHee dengan tidak sabar. Namun, tak ada tanda-tanda keberadaan orang di rumah itu. Ia pun segera meraih ponsel di sakunya berniat untuk menelpon JunHee.

Tuuut…tuut…..

“Lee JunHee.. Angkat telponnya, jebal..”, lirih BaekHyun penuh harap.

 

“Yoboseyo! JunHee-ya.. Aku..”

“…..”

“Aku ingin bertemu denganmu. Ku tunggu kau di taman!”

“……”

“Aku tidak mau tahu. Kau harus datang sekarang juga!”

“……”

Setelah mengakhiri pembicaraannya BaekHyun segera menuju taman.

—-

Sudah 1 jam lebih BaekHyun menunggu kedatangan JunHee di taman. Selang beberapa menit, ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tak dikenal.

From : 010xxxxxxx

Aku Oh SeHun, kau pasti mengenalku kan? Apa kau masih menunggunya di taman? Pulanglah! Lee JunHee sedang sangat sibuk.

BaekHyun segera membalas pesan tersebut.

To : 010xxxxxxxx

Tidak, aku harus bertemu dengannya sekarang juga! Aku akan menunggunya sampai ia datang!

From : 010xxxxxxx

Sampai kapan? Jika dia datang besok atau tahun depan ,bagaimana? Baboya!!

To : 010xxxxxxxx

Haruskah aku melakukannya? Jika memang harus, aku akan melakukannya walau itu terbayang tidak mungkin.

Setelah itu tak ada balasan lagi dari SeHun.

@ other place

“Temui dia..”, ucap SeHun lembut.

“Seberapa penting ia ingin bertemu denganku sekarang?”, tanya JunHee dingin.

“Mungkin ada sesuatu hal yang begitu penting hingga ia ingin bertemu denganmu sekarang juga.”, jawab SeHun bijak.

“Aku takut..”, lirih JunHee.

“Mwo?! Apa yang kau takutkan?”, tanya SeHun.

“Aku belum siap menerima kenyataan yang akan terjadi, yang mungkin akan membuatku semakin sakit nanti.”, ujar JunHee.

“Aku akan menemanimu, eotteokhae?”, tawar SeHun.

JunHee segera menggelengkan kepalanya.

“Kau harus menemuinya! Ayo!”, ajak SeHun sambil menarik paksa JunHee menuju mobil.

Tak ada penolakan dari JunHee, kalaupun ingin menolak dia yakin bahwa kekuatannya tak mampu menandingi tarikan SeHun.

-Setibanya di taman-

”Gwaenchana..”, ucap SeHun menenangkan.

“Kau tunggu disini saja..”, pinta JunHee pada SeHun ,lalu melangkahkan kakinya menelusuri jalan setapak guna mencari BaekHyun disana.

“JunHee-ya..!”, panggil BaekHyun ketika melihat JunHee.

JunHee menoleh ke arah suara. Mereka saling bertatapan sayu dari kejauhan.

 

Akhirnya JunHee mendekati BaekHyun, “Ada perlu apa? Oh… Kau mau bilang bahwa kau sudah lelah denganku? Lalu kau ingin kita putus saja?”, tanya JunHee tersenyum kecut menutupi perasaannya.

“Mwo?! Kau berpikir bahwa aku seperti itu? Bukan itu yang kuinginkan!”, jawab BaekHyun tegas.

“Teriaklah padaku! Marahilah aku sepuas hatimu! Lalu menangislah!”, pinta BaekHyun.

“Mwo?!”, balas JunHee tak mengerti.

 

“Aku tahu kau memendam kekesalanmu selama ini, sehingga sikapmu dingin padaku. Mianhe, aku baru menyadarinya.”, sesal BaekHyun.

“Hal ini tidak penting untuk dibicarakan.”, ujar JunHee ,lalu berbalik meninggalkan BaekHyun.

 

Greeb.. BaekHyun mendekap hangat tubuh JunHee dari belakang untuk mencegah kepergiannya.

“Mianhe.. Jongmal mianhe..”, ucap BaekHyun memperat pelukannya.

Sulit bagi JunHee membendung air matanya yang mendesak keluar.

Setetes air matanya jatuh di lengan BaekHyun yang mendekapnya erat. BaekHyun yang menyadari bahwa JunHee sedang meneteskan air mata langsung membalikkan tubuh JunHee.

JunHee menutupi wajahnya kala BaekHyun ingin melihat wajahnya. BaekHyun mencoba memberanikan diri untuk menyentuh kedua tangan JunHee yang menutupi wajah cantiknya. Namun JunHee  malah langsung berlari meninggalkan BaekHyun.

SeHun yang masih berada di dalam mobil, sedikit merasa bosan menunggu JunHee. Beberapa detik kemudian, dilihatnya JunHee berlari ke arah mobilnya, lalu masuk dan duduk di sampingnya dengan terburu-buru.

“Bagaimana?”, tanya SeHun penasaran.

“Cepat jalankan mobilnya!!! Cepat bawa aku pergi dari sini!”, seru JunHee.

SeHun pun segera mengemudikan mobilnya meninggalkan taman itu.

“JunHee-ya..!! JunHee-ya..!”, teriak BaekHyun mengejar laju mobil SeHun.

SeHun menyadari bahwa BaekHyun sedang mengejarnya, ia menatap JunHee. “Haruskah kita berhenti?”, tanya SeHun hati-hati.

“Teruskan saja kemudimu!”, pinta JunHee lirih. SeHun pun menurutinya.

 

===============================================================

“Apa yang harus ku lakukan, XiuMin-ah??”, lirih BaekHyun namun masih terdengar oleh XiuMin .

“Mianhe.. Karna ku, hubungan kalian semakin memburuk.”, sesal XiuMin.

“Tidak, ini bukan salahmu. Seharusnya sejak dulu aku tidak menutupi hal ini darinya.”, balas BaekHyun tak kalah menyesal.

“JunHee tidak meminta putus kan, padahal dia tahu dan aku yakin itu membuatnya kecewa dan marah. Pasti JunHee punya alasan kenapa dia hanya memendam kemarahannya.”, ujar XiuMin.

“Benar, pada umumnya pasti seorang yeoja akan marah dan langsung minta putus. Tapi JunHee tidak melakukannya, dia bahkan tak mengungkit hal itu di depanku…”, balas BaekHyun. Mereka saling bertatapan penuh tanya.

“Dekati dia pelan-pelan.. Kau harus bisa menjaga hatinya yang mungkin begitu rapuh.”, ucap XiuMin memberi saran.

“Ne. Aku akan berusaha.”, balas BaekHyun lemah.

 

============================================================

“Oh SeHun..”, gumam BaekHyun di dalam kelas.

“Bisakah aku meminta tolong pada namja itu. Dia kan teman baik JunHee. Bahkan yang mengantar JunHee di taman waktu itu, aku yakin namja itu adalah SeHun.”, gumamnya lagi sambil berpikir.

“Byun BaekHyun!! Kau! Jika kau tidak berkonsentrasi pada pelajaranku, keluarlah!!”, seru dosen berhasil mengagetkan BaekHyun yang sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Mianhamnida, Mr.Jung..”, balas BaekHyun dan mulai berkonsentrasi pada materi yang disampaikan Mr.Jung.

—————-

Setelah mendengar penjelasan BaekHyun yang meminta tolong padanya, tanpa ragu SeHun mengiyakan permintaan BaekHyun.

“Baiklah.. Aku mempercayaimu.”, ujar SeHun sembari menyunggingkan senyum kepercayaan.

“Gomawoyo, SeHun-sshi..”, ucap BaekHyun tersenyum lega.

“Cheonmanaeyo, BaekHyun-sshi.. Aku juga tidak suka JunHee bersikap seperti itu. Lebih baik kau segeralah ke Aula sekarang. Aku akan segera mengirim pesan pada JunHee untuk memancingnyasegera kesana.”, terang SeHun.

—-

“Aiissh!! Babo SeHun!! Bagaimana bisa dia meninggalkan laporan penelitian yang begitu penting itu di Aula??!!”, geram JunHee berjalan cepat menuju aula dengan raut wajah yang begitu kesal.

 

JunHee memasuki Aula yang tak terkunci itu, dan segera celingukan ke seluruh penjuru ruangan yang terlihat tak ada orang selain dirinya.

Ketika ia sudah memasuki ruangan lebih dalam, pintu Aula tersebut tertutup sendiri. Tentu itu membuatnya kaget.

JunHee segera berbalik dan berniat keluar dari aula itu karena mulai diselimuti rasa takut.

Namun terdengar suara dentingan piano yang menghentikan langkahnya. Kedua matanya menemukan seorang namja yang tengah memainkan piano di sudut ruangan, siapa lagi kalau bukan Byun BaekHyun. Ia dengarkan seksama setiap tutur kata indah BaekHyun melalui melodi yang melantun lembut dan terdengar tulus.

[Open Arms-Boyz II Men]

Living without you, living alone

This empty house seems so cold

Wanting to hold you, Wanting you near

How much I wanted you home

But not you’ve come back

Turned night into day, I need you to stay

**So now I come to you, with open arms

Nothing to hide, believe what I say

So here I am, with open arms

Hoping you’ll see what your love means to me

Open Arms~

#lagu yg pernah dinyanyiin Onew,BaekHyun,Chen,RyeoWook di SMTOWN concert^^ taukn ,RiNers?#

 

Lirik yang dinyanyikan oleh BaekHyun berhasil membuat JunHee menitikkan air matanya. Ingin sekali ia segera meninggalkan ruangan luas itu, namun entah perintah darimana ia enggan beranjak menjauh dari tempatnya.

“Bukannya tidak bisa, tapi kau memang tidak ingin mengakhirinya, Lee JunHee..”,kata-kata itu terngiang di benak JunHee.

BaekHyun beranjak dari tempatnya ,lalu mendekati JunHee yang masih terpaku. Dihapusnya butiran-butiran air mata yang menghiasi wajah yeoja tersayangnya itu.

—-

JunHee dan BaekHyun duduk di bangku taman yang dirindangi oleh pohon tua. BaekHyun menggenggam erat tangan JunHee, tanpa saling memandang, pandangan mereka lurus ke depan ,dan hening.

 

“JunHee-ya.. Mianhe, jongmal mianhe..”, ucap BaekHyun tulus.

JunHee menatap BaekHyun ,lalu memeluknya erat. “Oppa, Bogosshipoyo.. Jongmal bogosshipo..”, ungkap JunHee manja.

BaekHyun pun tertawa kecil. “Bukankah kau sudah melihatku dari tadi?!”, balas BaekHyun dengan nada dingin meniru ucapan JunHee yang pernah dikatakan padanya dulu.

“Mianhe..”, sesal JunHee mempererat pelukannya.

 

“Sebenarnya sejak pertama kali aku melihatmu di Seoul Gangnam-gu High School, aku sudah menyukaimu. Tapi karena aku tahu bahwa kau yeoja yang memiliki otak brilliant dan terkenal sebagai yeoja paling rajin di sekolah, mengecilkan nyaliku untuk mendekatimu. Dan tepat pada hari kelulusan, XiuMin menantangku.”, terang BaekHyun.

“XiuMin??”, gumam JunHee penuh tanya.

“Oiya! XiuMin itu Kim MinSeok.”, jawab BaekHyun. JunHee pun mengangguk mengerti.

 

“Lalu?? Apa taruhannya?”, tanya JunHee penasaran dan menatap BaekHyun sedikit tajam.

“Itu… Eumm… Benarkah kau ingin tahu?!”

“Cepat katakan!! Aku ingin tahu, kau taruhkan dengan apa diriku ini?!!”, kesal JunHee.

 

“Eumm,, sebuah gembok.”, jawab BaekHyun ragu.

“Gembok? Mwoya?!!!! Tapi yang ku dengar, jumlah itu terlalu besar?! Pasti uang kan?!!”, sentak JunHee.

“Itu memang kesepakatan awal. Tapi karena setelah itu aku tersadar, aku tak mau menerima jumlah uang yang terbilang cukup besar bagi mahasiswa seperti kami. Akhirnya MinSeok memberikanku sebuah gembok sebagai penghormatan untukku yang berhasil mendapatkan Lee JunHee sebagai yeojachinguku.”, terang BaekHyun,

“Kalian ini memang menyebalkan!”, kesal JunHee.

“hehehe.. Mianhe.. Kapan-kapan kita ke Namsan Tower yaa, kita pasang gembok itu di pagar menara untuk mengabadikan cinta kita sebagai pasangan?”, ajak BaekHyun antusias.

 

“Euumm.. Okay.. Oppa, Bolehkah aku meminta sesuatu?”, tanya JunHee ragu-ragu.

“Ne. Katakanlah!”, balas BaekHyun tersenyum lembut.

“Aku ingin bertemu Kim MinSeok..”, jawab JunHee.

JunHee mengulurkan tangan kanannya, MinSeok tersenyum membalasnya dan meraih tangan JunHee untuk bersalaman.

“Mianhe.. Aku sudah melampiaskan kemarahanku padamu, MinSeok-sshi..”, ucap JunHee.

“Gwaenchana.. Aku memahaminya, wajar kalau kau marah besar.”, balas XiuMin.

“Eumm, tapi aku juga berterima kasih, karena taruhan itu membuat aku dan BaekHyun bersama seperti sekarang.”, ucap JunHee lagi sambil menggandeng erat lengan BaekHyun dengan manja.

“Hahaha.. Sama-sama..”, ucap MinSeok tersenyum canggung.

“Kita mau kemana? Aku lapar ,Oppa..”, tanya JunHee manja.

“Aku ingin mengajakmu ke rumah makan milik temanku.”, ujar BaekHyun membuat JunHee mengangguk senang.

 

15 menit kemudian mereka berdua sampai di rumah makan milik Do KyungSoo.

“BaekHyun-ah..! Lama kau tak kemari?!”, sapa KyungSoo senang.

“Hehehe.. Mian..”, ucap BaekHyun.

“Ehem…”, KyungSoo berdehem melirik JunHee.

“Oh! Dia Lee JunHee, yeojachinguku.”, ucap BaekHyun mengenalkannya.

“Do KyungSoo imnida. Silahkan duduk.. Akan ku masakkan makanan spesial untuk kalian.”, ujar KyungSoo lalu beranjak menuju dapur.

“BaekHyun oppa..!!”, sapa seorang gadis kecil.

“Hai, Do YeEun.. Kemarilah..”, balas BaekHyun ramah.

Gadis kecil itu pun menghampiri BaekHyun dan duduk di sampingnya.

“YeEun-ah, kau masih ingat oppa?”, tanya BaekHyun.

JunHee hanya memandang mereka penuh tanya, namun BaekHyun dan YeEun malah asyik mengobrol, tanpa menghiraukan JunHee.

“Tentu, Oppa. Walau baru sekali kita bertemu, aku sangat mengingat BaekHyun oppa.”, terang YeEun penuh senyum.

“Hahaha.. Anak pintar!”, puji BaekHyun sambil mengacak lembul rambut YeEun.

“Oppa, kata umma dan appa, aku tidak boleh menerima ajakan Oppa untuk menikah. Tapi aku tidak mau, aku suka dengan BaekHyun oppa. Jadi aku mau menikah dengan Oppa.”, jelas YeEun membuat BaekHyun sedikit terkejut.

“Ehem..!”, JunHee mulai bersuara dan menatap tajam BaekHyun yang ada di hadapannya.

“Kau duluan yang mengajak gadis kecil itu menikah??! Nappeun!!”, kesal JunHee.

“Aku tidak menyangka, gadis kecil itu menghiraukan pernyataanku. Padahal waktu itu kan aku hanya asal bercanda.”, ujar BaekHyun di tengah perjalanan meninggalkan restoran.

“Makanya kalau mau bicara pikirkan dulu! Anak-anak zaman sekarang lebih pintar daripada kau, baboya!”, kata JunHee ketus.

“Kau tidak sedang cemburu kan, chagi? Dia hanya anak kecil, tidak mungkin aku berpaling darimu hanya karena godaan anak manis itu.”, goda BaekHyun.

“Mwoya?! Aiissh!!! Terserah kau!”, pekik JunHee kesal.

BaekHyun tertawa melihat kekesalan JunHee.

“Sudah cukup!! Apa yang kau tertawakan?!”, kesal JunHee karena tawaan BaekHyun yang tak kunjung berhenti.

BaekHyun langsung menahan tawanya. “Kekesalanmu. Wajah kesalmu begitu cantik. Lihat! Kau memerah!”, jawab BaekHyun mulai tertawa lagi.

“Kau sungguh menyebalkan!”, umpat JunHee sambil memukul lengan BaekHyun.

“Inilah yang ku suka.”, ujar BaekHyun mengganti tawaannya menjadi senyum lembut.

“Mwo?”, tanya JunHee menatap BaekHyun heran.

“Jangan ulangi sikap dingin itu lagi! Menangislah seperti anak-anak kala kau tersakiti, karena aku akan melapangkan kedua tanganku lalu memeluk mu hangat untuk menenangkanmu. Marah-marahlah kala kau memang kesal, karena aku akan melebarkan telingaku untuk menampung kekesalanmu. Arrachi?”, terang BaekHyun.

JunHee menatap BaekHyun penuh terima kasih.

Chuup~ JunHee mengecup BaekHyun singkat. “Arrasseo. Begitupun dengan kau, karena aku akan melakukannya juga untukmu.”, jawab JunHee.

Akhirnya mereka saling melemparkan senyuman, senyuman lembut yang penuh ketulusan.

 

 

~Byun BaekHyun~

I realized who I love, when he braved me to get her as my girlfriend by way of sweeptake.

I realized what I love ,when I lost her childish which I liked.

I realized about my love, when I felt that she was ice at me.

And Finally, I knew what reason is, why she did.

I’m so sorry, I did it because IT’S YOU, Lee JunHee.

 

~Lee JunHee~

I realized that love unified 2 different humans to complete each others, when he asked me to be his girlfriend.

I was so sick, when I knew that I was just their sweeptake.

Dissapointment leaded my emotion. But, I didn’t know what I should do. Be mad at him? Break our relationship?

I didn’t know why I couldn’t do.

And finally, I have realized why I love, because IT’S YOU. And I knew who I love, IT’S YOU, Byun BaekHyun… ^^

 

-END-

 

 

Aigoo,, mian klo brantakan yaa endingny, RiNers…😦 Yg jlaz aq udah ngobrak-ngabrik isi otakQ, smoga gak ada yg ilang isi otakQ ini yaa… hehehe:D Dan ini hasilnya.. Smoga puas… ^^

RCL~ RCL~ Sngat saya hrapkan… Gomawo, RiNers^_^/

 

FF >> WHAT IS LOVE? :: (IV) “IT’S YOU” 2/3

EXO's BaekHyun

EXO’s BaekHyun

WHAT IS LOVE? [BaekHyun ver.] :: It’s You

Author       : Lee TaeRin [TarinWish]

Cast         :

  • EXO-K’s BaekHyun as Byun BaekHyun
  • Lee JunHee (OC)
  • EXO-M’s XiuMin as XiuMin a.k.a Kim MinSeok
  • EXO-K’s SeHun as Oh SeHun

cameo: SHINee’s TaeMin

Rating : PG-15

Genre : Romance

Jangan lupa nyiapin komen ttg story nii yaa, RiNers skalian… ^_^

Mian niiih klo critany jlek ato gaje,, trz bhasaQ acak”an ksna ksni.. hihihi😀

Happy Reading!😉

*Author POV*

“Sebenarnya……”, ucap MinSeok menggantung ucapannya.

“Jangan beritahu hal ini pada Byun BaekHyun! Kalau kau mengatakannya, aku akan melakukan hal seperti yang telah kau duga!”

Kata-kata itu terngiang di ingatan MinSeok. Hingga akhirnya ia enggan melanjutkan kata-kata yang sebenarnya ingin ia sampaikan pada BaekHyun.

“Wae?”, tanya BaekHyun.

“Sebenarnya aku sudah mengantuk. Aku ingin tidur. Jaljayo!”, ujar XiuMin asal.

“Aiissh!! Dasar!!”, geram BaekHyun.

@Morning

“BaekHyun-ah, kau tidak kuliah?”, tanya XiUmin sembari meminum segelas susu.

“Aku malas.”, jawab BaekHyun yang masih sibuk mengoles selai di roti tawarnya.

“Kau ini?!! Kau sangat bertolak belakang dengan JunHee. Kalau aku jadi JunHee, aku pasti sudah memutuskanmu!”, sindir XiuMin.

BaekHyun yang hendak melahab roti tawarnya, terhenti seketika mendengar sindiran XiuMin.

BaekHyun pun meletakkan roti tawarnya di atas piring, dan beranjak menuju kamarnya. XiuMin hanya menatapnya heran.

Beberapa menit kemudian, BaekHyun yang sudah berpenampilan rapi keluar dari kamarnya.

“Kau mau kemana?”, tanya XiuMin.

“Kuliah, babo!”, jawab BaekHyun ketus.

“Yaah… Bagaimana denganku…? I’ m alone.”, ratap XiuMin sedih tanpa ada tanggapan dari BaekHyun.

@Campus

Setibanya di kampus, BaekHyun segera menuju kelas dan mengikuti kuliahnya. Entah kenapa sindirin XiuMin tadi mampu menghipnotis dirinya.

Sebelum pembelajaran dimulai, BaekHyun mengirim sebuah pesan singkat pada yeojachingunya.

To : My JunHee

Chagi, setelah kuliah nanti, ku tunggu kau di taman biasa, ne? ^^ Selamat Belajar! Hwaiting!!

—-

XiuMin memutuskan pergi ke swalayan untuk mengisi waktu kesendiriannya. Ia hendak membeli bahan-bahan makanan untuk dirinya dan BaekHyun.

“Susu, selai, roti tawar.. Eumm,, apa lagi yaa?”, gumamnya sendiri sambil melihat-lihat sekelilingnya.

Braak… Karena tidak fokus pada jalan, tanpa sengaja trolly yang didorongnya menabrak trolly belanja orang lain.

“Aigoo..”, keluh yeoja yang trolly nya ditabrak oleh XiuMin.

“Mianhamnida..”, ucap XiuMin menyesal. Ia menatap yeoja itu seksama, tatapan terpesona.

“No problem.”, balas yeoja itu tersenyum ramah semakin membuat XiuMin menatapnya kagum.

“Oh! Nona, ada yang jatuh..”, ujar XiuMin sambil mengambilkan sebungkus snack kentang yang jatuh.

“Ne, gamsahamnida..”, balas yeoja itu menerima snack kentang darinya.

“Nona, there which is falling again.”, ujar XiuMin lagi.

“What is that?”, tanya yeoja itu sambil melihat ke bawah.

“I am. I am falling in love with you.”, jawab XiuMin membuat yeoja itu membulatkan kedua matanya.

Yeoja itu pun bergegas mendorong trollynya menjauhi XiuMin. Tanpa ragu XiuMin mengikutinya dari belakang.

Yeoja itu berhenti di depan jajaran mie instant. Ia ingin meraih mie instant yang berada di rak paling atas, namun tinggi badannya tak cukup untuk meraihnya.

XiuMin pun bergegas mengambil kesempatan untuk membantu yeoja itu. Selangkah lagi ia raih mie instant tersebut, namun tangan lain sudah mendahului aksinya.

“Hahaha.. You are short, honey!”, ejek namja yang mendahului niat XiuMin.

Yeoja itu merengut karena ejekannya. “Nappeun TaeMin..!!”, balas yeoja itu.

“Hahaha.. Just kidding, naui JinMi..”, ujar namja yang diketahui bernama TaeMin itu.

“Saranghae..”, bisik TaeMin lagi membuat yeoja bernama JinMi itu tersenyum malu.

XiuMin melihat mereka dengan tatapan kecewa.

“I think, you are still single.”, batin XiuMin.

XiuMin mengalihkan pandangannya ke jajaran mie instant dan mengambilnya beberapa pack dengan sedikit kasar.

“Lee JunHee…”, gumam XiuMin memandang yeoja yang berada di depan tumpukan buah-buah segar.

“Siapa namja itu?”, tanya XiuMin membatin dengan tatapan curiga.

Lee JunHee yang ia lihat tak sedang berbelanja sendiri, melainkan ditemani oleh seorang namja yang berperawakan tinggi dan tampan.

“SeHun-i, kau suka apel atau jeruk?”, tanya JunHee sambil menunjukan kedua buah tersebut di depan SeHun.

“Apel. Ini mirip denganmu.”, jawab SeHun sambil menggenggam tangan kanan JunHee yang sedang memegang apel.

“Hey!! Bagaimana bisa mirip denganku, Oh SeHun?!”, protes JunHee, membuat keduanya saling melempar tawa.

“Oh SeHun..?”, gumam XiuMin dengan raut wajah bingung.

Kedua mata JunHee mengitari sekitarnya, XiuMin yang menyadarinya segera menjauh dari tempatnya agar terhindar dari jangkauan mata JunHee.

“Aiissh!! Seharusnya aku tidak kemari!! Sungguh menyebalkan melihat dua hal yang seharusnya tidak perlu ku lihat!”, gerutu XiuMin sambil mendorong trolly belanjaannya menuju kasir.

@ Taman

BaekHyun terduduk di kursi taman, kedua matanya menikmati orang-orang yang sedang berlalu lalang di hadapannya.

“Apa JunHee akan kemari? Aku harap iya.”, ucap BaekHyun lirih penuh harap.

Ddrrrtt…ddrrrttt… Ponselya bergetar pertanda ada panggilan masuk.

“Yoboseyo”

“…..” 

“Aku? Aku baru saja selesai kuliah, tapi aku masih di taman kota sekarang.”

“…..”

“Terserah kau!”

BaekHyun mengakhiri panggilan masuknya, panggilan dari chingu nya yang sedang merasa kesepian. Siapa lagi kalau bukan Kim MinSeok alias XiuMin?! Kkk~

Tak lama kemudian, XiuMin tiba di taman dan menemukan BaekHyun yang sedang duduk santai di taman.

“BaekHyun-ah..”, panggil XiuMin sambil mendudukan dirinya di samping BaekHyun.

“Kau mau mengganggu acara ku ya?”, tanya BaekHyun sedikit kesal.

“Wae?”, tanya XiuMin innoncent.

Namun BaekHyun tak menjawabnya, ia mengalihkan pandangannya dari namja berwajah cute itu.

“Kau sedang menunggu Lee JunHee?”, tanya XiuMin hati-hati.

BaekHyun tak menghiraukannya, ia lebih tertarik pada sepasang kekasih yang berada tak jauh darinya.

Seorang yeoja yang sedang menangis di hadapan seorang namja, dan tangan namja itu merangkul dan menepuk pelan pundak si yeoja.

“Selama ini aku tak pernah melihat JunHee seperti itu..”, lirih BaekHyun ,namun masih terdengar oleh XiuMin.

“Berarti JunHee adalah yeoja yang tegar.”, ujar XiuMin santai.

“Aku hanya melihat keceriaannya, itu pun hanya beberapa bulan yang lalu.”, lanjut BaekHyun.

“Wae?”, tanya XiuMin.

“Entahlah.. Walau begitu aku ingin sekali melihatnya menangis ,bahkan marah-marah atau mengumpat padaku, daripada bersikap dingin seperti akhir-akhir ini. Aku ingin menjadi namjachingu yang berguna untuknya.”, terang BaekHyun.

XiuMin hanya terdiam menatap sedih BaekHyun.

“BaekHyun-ah, kau kenal Oh SeHun?”, tanya XiuMin mulai bersuara.

“Eumm,, aku tahu, tapi aku tidak mengenalnya dengan baik. Dia teman sefakultas JunHee.”, jawab BaekHyun.

“Owh… Teman? Bukan saudara atau..?”, tanya XiuMin lagi.

“Setahuku JunHee tidak punya saudara laki-laki, sepupunya pun perempuan semua. Memangnya kenapa? Bagaimana kau tahu namja itu?”, terang BaekHyun.

“Eumm,, saat aku di swalayan tadi kebetulan aku melihat JunHee bersama namja yang bernama SeHun itu.”, jelas XiuMin.

“Jinjayo??! Aiiissh!! Jelas saja aku tidak menemukan JunHee di kampus tadi!!”, gerutu BaekHyun.

@the same time

JunHee memasukkan barang belanjaannya ke dalam mobil SeHun.

“Ini semua tidak gratis!”, ujar SeHun santai yang berada di sampingnya.

“Arra! Setiap menumpang denganmu kau pasti meminta imbalan kan?!”, ketus JunHee.

SeHun terkekeh mendengarnya. “Apa imbalan kali ini?”, tanyanya.

“Bagaimana kalau yeojachingu?”, tawar JunHee.

“Siapa yeoja yang ingin kau jodohkan denganku?”, tanya SeHun.

“Yang jelas bukan aku, ibuku, atau nenekku!”, jawab JunHee santai.

“Tapi aku ingin kau orangnya!”, ucap SeHun.

Pletaakk… “Kau bukan tipe kesukaanku, Oh SeHun!”, ujar JunHee.

“Aigoo..!!”, rengek SeHun sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit.

SeHun sudah berada di kursi kemudi, dan mulai menstarter mobilnya. JunHee yang berada di samping SeHun berkutat pada layar ponselnya.

“Aiissh,, babo namja!!”, gumam JunHee didengar oleh SeHun.

“Ada apa?”, tanya SeHun.

“Eumm… Turunkan aku di taman kota ya..?”, pinta JunHee.

“Lalu barang-barang belanjaanmu?”, tanya SeHun.

“Tolong antarkan ke rumahku! Aku akan pulang naik bus nanti. Ne?”, terang JunHee.

“Baiklah.. Apa BaekHyun sedang menunggumu disana?”, tebak SeHun.

“Haruskan kau tahu?”, balas JunHee. SeHun menanggapinya dengan helaan nafas.

“Oppa..!”, sapa JunHee. BaekHyun yang melihat kedatangan JunHee langsung merekahkan senyumannya.

“Byun BaekHyun! Apa kau berselingkuh?!”, tanya JunHee sambil menatap tajam XiuMin yang duduk di samping BaekHyun.

“Ne. Apa kau cemburu?”, goda BaekHyun.

“Aigoo,, aku pulang saja!”, kesal XiuMin meninggalkan mereka berdua.

“Hahaha.. Chagi, aku senang kau datang!”, ungkap BaekHyun.

“Jangan berlebihan!”, ketus JunHee.

“Lihat bunga itu! Indah ya? Ayo kita kesana!”, ajak BaekHyun sambil menarik tangan JunHee lembut.

BaekHyun menggenggam erat tangan JunHee. Mereka berjalan pelan menelusuri taman yang dihiasi berbagai tumbuhan yang indah di mata.

“Chagi, pernahkan kau bersedih?”, tanya BaekHyun memecah keheningan di antara mereka.

“Tentu.”, jawab singkat JunHee.

“Menangis??”, tanya BaekHyun lagi.

“Childish!”, ucap JunHee.

“Kalau kau bersedih dan ingin menangis, kalau kau kesal dan ingin marah, pergilah ke pelukanku!”, ujar BaekHyun.

JunHee tak bersuara menanggapinya. Ia bahkan mengalihkan pandangannya dari BaekHyun yang sedang menatapnya penuh ketulusan.

BaekHyun mengantarkan JunHee ke halte bus terdekat.

“Besok aku akan pergi ke Incheon.”, ujar JunHee sembari mendudukkan dirinya di kursi tunggu halte.

“Mwo?!”, kejut BaekHyun.

“Ada seminar dan kompetisi. Aku akan tinggal selama seminggu disana.”, terang JunHee.

“Owh… Apa kau akan pergi bersama Oh SeHun?”, tanya BaekHyun hati-hati.

“Tentu, dia kan tim ku.”, jawab JunHee.

“Tidak perlu cemburu! Namja itu bukan tipe kesukaanku!”, lanjutnya lagi.

“Hahaha… Kau bisa membaca perasaanku ya?!”, kekeh BaekHyun.

“Good Luck! You are the best, Chagi..!”, ucap BaekHyun menyemangati.

Tak lama kemudian, sebuah bus berhenti. JunHee bergegas menumpanginya.

“Hati-hati…”, kata BaekHyun sambil melambaikan tangannya. JunHee hanya tersenyum tipis membalas lambaian tangan BaekHyun di balik jendela bus yang sudah ia tumpangi.

============================================

Hari demi hari berjalan begitu lambat bagi BaekHyun, beberapa hari tanpa melihat JunHee membuatnya begitu bosan, bahkan semangat kuliahnya menurun.

Ingin sekali ia menghubunginya, namun JunHee memintanya untuk tidak menghubunginya selama seminggu agar tak mengganggu. BaekHyun pun menyanggupinya, walau sebenarnya ia enggan.

“Eh, sehari setelah JunHee tiba dari Incheon, dia berulang tahun. Menurutmu apa yang harus ku berikan untuknya nanti?”, tanya BaekHyun meminta pendapat pada XiuMin.

“Eumm.. Apa yaa?? Kau kan tahu aku tidak berpengalaman dalam hal itu. Lagian aku bukan tipe namja yang romantis.”, balas XiuMin.

“Benar. Kau kan tipe namja yang konyol. Mungkin yang ada di otakmu adalah kejutan badut.”, sindir BaekHyun.

“Heh!! Enak saja!! Eumm,, makan malam romantis?”, tawar XiuMin antusias.

“Eumm.. Bukankah itu sudah biasa?”, ujar BaekHyun.

“Apa kau pernah melakukan makan malam romantis?”, tanya XiuMin penasaran.

“Belum.”, jawab BaekHyun.

“Nah, itu berarti belum biasa bagimu kan? Aku yakin JunHee juga begitu, yang ku tahu kau lah teman kencan pertamanya.”, terang XiuMin.

“Benar juga.. hahaha.. Baiklah, akan ku coba! Bantu aku ya?”, pinta BaekHyun.

“Aiiissh!! Kau beruntung memiliki aku!”, ucap XiuMin bangga.

*JunHee’s BirthDAY*

BaekHyun pergi ke rumah JunHee untuk menjemputnya. Ting tong… BaekHyun menekan bel rumah JunHee. Tak lama kemudian JunHee membuka pintu rumahnya.

BaekHyun segera menyanyi ketika sosok JunHee sudah muncul di hadapannya. “Saengil Chukkahamnida.. Saengil Chukka hamnida.. Saranghaneun naui JunHee.. Saengil Chukkahamnida..”.

JunHee tersenyum membalasnya.

“Hanya itu?”, tanya BaekHyun.

“Mwo?”, tanya JunHee heran.

“Hanya senyuman yang kau berikan sebagai balasan nyanyian indahku tadi?”, ujar BaekHyun.

“Gomawo.”, ucap JunHee singkat.

“Hanya itu??!”, tanya BaekHyun lagi lebih ditekan.

“Mwoya?!”, kesal JunHee.

“Kisseu..”, pinta BaekHyun manja sambil menunjuk pipi kanannya dengan telunjuknya.

“Kau bahkan hanya memberiku nyanyian singkat!”, protes JunHee.

“Kata siapa? Kalau begitu, segeralah dandan yang cantik! Kita pergi!”, ucap BaekHyun memerintah sambil mendorong JunHee masuk ke dalam kamar, agar segera berganti pakaian.

BaekHyun membawa JunHee ke sebuah restoran, restoran yang terlihat sangat sederhana, tak ada kesan mewah disana dan sepi pengunjung.

“Haruskah aku menutup kedua matamu?”, tanya BaekHyun.

“I don’t like that.”, jawab JunHee ketus.

“Hahaha.. It’s okay, chagi..”, balas BaekHyun. Lalu menggandeng JunHee untuk masuk ke dalam restoran.

“Kau mempersulit diriku, Byun BaekHyun..??!”, batin JunHee menatap nanar pemandangan romantis yang seharusnya terlihat mengagumkan bagi yeoja manapun.

Mata JunHee memanas ,namun ia berusaha menutupinya. “Kenapa kau melakukan ini?”, tanya JunHee dingin.

“Mwo?! Yaa jelas untuk perayaan ulang tahunmu! Apa kau menyukainya?”, tanya BaekHyun antusias tanpa menyadari sikap JunHee.

“Ayo kita ciptakan suasana romantis! Bukankah kita pasangan yang manis?!”, ajak BaekHyun sambil menarik lembut tangan JunHee.

Namun, langsung ditepis oleh JunHee dengan kasar.

“Aku tidak suka!”, seru JunHee dengan tatapan begitu dingin. Lalu berbalik hendak menjauhi BaekHyun, namun dengan sigap BaekHyun mencegahnya.

“JunHee-ya, Kau benar-benar keterlaluan!!”, bentak BaekHyun kehabisan kesabaran.

“Aku? Keterlaluan? Ya! Aku memang keterlaluan!! Tapi kau yang lebih keterlaluan dariku!”, balas JunHee tak kalah membentak.

“Mwo??!”, pekik BaekHyun. Lalu ia tersenyum tak percaya.

“Aku lebih keterlaluan..?! Setelah apapun yang ku lakukan demi kau selama ini, aku keterlaluan??!! Iya!! Aku keterlaluan! Keterlaluan mencintaimu!”, lanjut BaekHyun dengan nada keras. Kedua matanya pun sudah memerah karena emosinya yang terbakar.

JunHee tersenyum remeh, “Kau sungguh mengagumkan, Byun BaekHyun. Akting mu benar-benar bagus!”, ucap JunHee menatap BaekHyun lekat.

BaekHyun mengerutkan keningnya, ia bingung apa maksud JunHee mengatakan bahwa aktingnya bagus, padahal ia sedang tak berakting. JunHee hanya tersenyum membalas tatapan BaekHyun yang penuh tanya.

Berselang beberapa detik, JunHee mengalihkan tatapannya, lalu pergi meninggalkan BaekHyun.

BaekHyun hanya diam terpaku tanpa mencegah kepergian JunHee, akalnya terlalu sibuk memikirkan perkataan JunHee tadi padanya.

JunHee berjalan cepat meninggalkan restoran tersebut, air matanya yang sedari tadi ia bendung, akhirnya pecah.

Kedua matanya memerah, wajah cantiknya terlihat begitu basah karena air mata yang mengalir deras, tubuhnya pun bergetar, namun ia berusaha tegar melangkahkan kedua kakinya menelusuri jalanan kota.

Ia menutupi mulutnya dengan telapak tangan kanannya, meredam suara senggukan yang mendesak keluar dari mulutnya.

Bruuuk… JunHee terjatuh ketika seseorang menabraknya pelan, tubuhnya begitu lemah untuk menahan diri. 

“Mianhamnida…”, ucap namja yang menabraknya.

JunHee hanya menunduk memegangi salah satu lututnya yang sedikit tergores.

“Nona, gwaenchanayo?”, tanya namja itu khawatir.

Namun JunHee masih menundukkan kepalanya, hingga rambutnya yang terurai menutupi wajahnya.

Namja itu pun memberanikan diri menarik dagu JunHee agar melihatnya.

“Lee JunHee..”, gumamnya mengenali yeoja yang ditabraknya itu.

“SeHun-i…”, lirih JunHee yang juga mengenali namja itu.

JunHee segera menutupi wajahnya lagi, ia malu menunjukkan dirinya yang mungkin terlihat menyedihkan.

“Aku tahu, aku mengetahuinya dengan jelas hingga rasanya benar-benar sakit. Tapi entah kenapa aku tidak bisa memintanya untuk mengakhiri hubungan kami..”, ungkap JunHee.

“Bukannya tidak bisa, tapi kau memang tidak ingin mengakhirinya, Lee JunHee..”, ujar SeHun.

JunHee langsung menatap SeHun. SeHun tersenyum lembut membalas tatapan penuh tanya JunHee.

“Aku yakin, sebenarnya BaekHyun juga sangat menyayangimu. Mungkin pada awalnya niatnya belum tulus menyukaimu, tapi seiring berjalannya waktu ia benar-benar mencintaimu.”, kata SeHun bijak.

[FLASHBACK ON]

-A few months ago-

Dengan senyuman yang begitu cerah, Lee JunHee menekan angka memasukkan kode pin apartemen. Ia hendak menemui namjachingu nya,Byun BaekHyun di apartemen nya, tanpa pemberitahuan. Ia memang bermaksud memberikan kejutan dengan membawa beberapa kotak bekal yang berisikan masakan nya sendiri.

Tanpa menutup pintu apartemen lagi, JunHee masuk ke dalam apartemen dengan mengendap-endap.

Namun, langkahnya terhenti ketika ia tahu, bahwa ada tamu yang sedang mengobrol dengan BaekHyun di ruang tamu dengan santai.

“MinSeok.. Apa dia sudah pulang dari China?”, batin JunHee mengintip kedua namja itu di balik tembok.

Ia hendak melanjutkan langkahnya untuk menyapa keduanya, namun niatnya terhenti seketika saat mendengar pembicaraan BaekHyun dan MinSeok yang menyangkut tentang dirinya.

“Sudah hampir 1 tahun kan? Apa kau masih berpacaran dengan Lee JunHee?”, tanya MinSeok.

“Tentu. Hei!! Kau masih berhutang padaku!!”, seru BaekHyun.

“Aisssh, jumlah taruhan itu terlalu besar!!”, keluh MinSeok.

“Yaa, XiuMinSeok!! Bukankah kau sendiri yang menentukannya!!!”, protes BaekHyun.

“Itu karena aku pikir JunHee tidak akan menerimamu sebagai namjachingu nya..!! JunHee kan yeoja cerdas, dan kau namja malas!”, jelas XiUmin.

“Tapi buktinya, dia menerima ku kan?!”, balas BaekHyun memandang remeh XiUmin.

“Benar. Tak Ku sangka, dia itu yeoja cerdas dalam berbagai mata pelajaran, terutama Kimia. Tapi kenapa dia begitu bodoh dalam memilih namja?! Kalau dia tahu ,bahwa dia hanyalah sebagai yeoja taruhan, mungkin dia akan membunuhmu dengan cairan-cairan kimia yang mematikan!!“, ujar XiuMin.

Deg… Perasaan JunHee bagai tersambar petir mendengar pembicaraan tersebut.

[FLASHBACK OFF]

-Next Day-

“Byun BaekHyun!!! Cepat banguun!!!”, teriak XiuMin membangunkan BaekHyun yang masih berkumul selimut.

“Byun BaekHyun!!!! Lee JunHee datang!!!”, seru XiuMin lagi.

-TBC-

Gimana? aku gak yakin ni mnarik n bagus ato gak…😦

RCL yaaa… Like & Komen Riners skalian bgitu sangat saya harapkan sekaliii…😀

Readers yg baru nyasar(?) ksini alias gak sngaja nemu ni ff trz ngBaca,, komen doonk yaa…😉

Gomawo~~~

FF >> What Is Love? :: (IV) “IT’S YOU” 1/3

What Is Love? 4

EXO-K’s BaekHyun

WHAT IS LOVE? [BaekHyun ver.] :: It’s You

Author       : Lee TaeRin [TarinWish]

Cast         :

  • EXO-K’s BaekHyun as Byun BaekHyun
  • Lee JunHee (OC)
  • EXO-M’s XiuMin as XiuMin a.k.a Kim MinSeok
  • EXO-K’s SeHun as Oh SeHun

cameo: EXO-M’s Lay, SHINee’s Onew, EXO-K’s ChanYeol, f(x)’s Krystal

Rating : PG-15

Genre : Romance

 

 

Annyeong Haseyo..!!! Apa kabar smua?? Saya kembali membawa ff lanjutan utk melepas rinduku pada readers ku sekalian,, hihihi..😀

Okay, Happy Reading, all~~ ^_^

 

 

*BaekHyun POV*

“Chanyeol-i….!”, aku meneriaki Chanyeol yang hendak membuka pintu mobilnya.

“Ada apa?”, tanyanya.

“Antarkan aku pulang yaa…”, pintaku.

“Mwo??! Shirreo! Aku dan SooJung akan berkencan!”, tolaknya. Aku pun memasang wajah cemberut.

“BaekHyun-i, ayo! Kau bisa pulang bersama kami!”, ujar SooJung membuatku melebarkan senyumanku.

“SooJung-i… Acara kita akan terganggu..”, rengek ChanYeol.

“Kita kan bisa mengantar BaekHyun pulang dulu, baru kita jalan-jalan..”, ujar SooJung, lalu menyuruhku masuk ke dalam mobil di jok belakang.

 

Aku menjulurkan lidahku ke arah ChanYeol yang sedang menatapku tajam. “Eiiits…”, cergahnya ketika aku hendak duduk di jok belakang, lalu menarikkku keluar mobil.

“Kau yang menjadi sopir!!”, serunya dan menyerahkan kunci mobilnya.

“Yaa!!!”, pekikku.

“Wae? Kau keberatan?”, tanya ChanYeol.

“SooJung-i.. Kita duduk di belakang saja..”, pinta ChanYeol pada SooJung, dan SooJung pun menurutinya. Aku pun hanya mendengus kesal bersiap-siap menstarter mobil milik ChanYeol.

 

*Author POV*

Selama perjalanan BaekHyun terfokus pada kemudinya, namun canda-gurau ChanYeol dan SooJung di belakangnya seringkali mengganggu konsentrasinya.

“Hei! Kalian ini bisa tenang tidak?!”, protes BaekHyun.

“Wae, sopir Byun..?”, balas ChanYeol.

BaekHyun memilih menahan amarahnya, karena ia cukup tahu diri, bahwa ia sedang menumpang mobil orang lain, walau ia dijadikan sopirnya.

 

“Sopir Byun, kita mampir ke toko kosmetik ‘The Face Shop’ yaa..?!”, pinta ChanYeol.

“Mwo?!! Aigoo, aku ini ingin segera pulang, bukan malah jadi sopirmu!”, protes BaekHyun.

“Kalau begitu kau turun saja disini!”, tutur ChanYeol santai.

“Baik! Baik!”, seru BaekHyun menerimanya terpaksa. Ia tak mungkin turun di tengah perjalanan, karena jarak rumahnya masih sangat jauh, dan ia tak mau mengeluarkan ongkos untuk naik kendaraan umum.

 

@ The Face Shop

ChanYeol dan SooJung memasuki The Face Shop, diikuti BaekHyun dengan raut malas di wajahnya.

BaekHyun memandang mereka iri. Ia menghela nafasnya, dan mengalihkan pandangannya dari kedua sejoli yang terlihat begitu mesra memilih produk-produk yang ditawarkan.

 

BaekHyun melihat-lihat produk yang tertata rapi, lalu matanya tertarik pada sebuah paket kosmetik yang diskon 30%.

“Mungkin JunHee cocok memakai ini…”, gumamnya.

ChanYeol memandang heran BaekHyun yang membeli sepaket komestik untuk wanita.

“Setahuku kau tak punya saudara perempuan.. Apa itu untuk umma mu?”, tanya ChanYeol.

“Hehehe.. Ini untuk yeojachinguku.”, jawab BaekHyun.

ChanYeol yang mendengarnya langsung meledakkan tawanya.  BaekHyun memasang raut kesal karenanya. SooJung langsung mencubit pinggang ChanYeol agar menghentikan tawanya.

“Hahaha.. BaekHyun-i, kau sudah punya yeojachingu??! Tapi, bukankah tadi saat di rumah makan Do KyungSoo kau bilang kau tidak punya pasangan??!”, tanya ChanYeol menyelidik.

“Aku tadi hanya asal bicara.”, jawab BaekHyun.

“Aigoo, kau ini bagaimana?! Itu sama saja kau tidak mengakui yeojachingu mu! Nappeun!”, ujar SooJung.

“Aku tadi sedang kesal, karena ia menolak ajakan ku ke rumah makan D.O.”, terang BaekHyun sambil mengerucutkan bibir tipisnya.

“Siapa yeoja itu?”, tanya ChanYeol penasaran.

“Lee JunHee.”, jawab BaekHyun.

“Mwoya?!!!”, kejut ChanYeol dan SooJung serentak.

Tentu saja keduanya terkejut, karena mereka mengenal yeoja yang dimaksud BaekHyun.

“Lee JunHee..? JunHee yang selalu mendapat ranking I paralel di sekolah kita itu?!”, tanya ChanYeol memastikan.

“Tentu.”, singkat BaekHyun.

“Bagaimana bisa Byun BaekHyun namja pemalas ini berpacaran dengan yeoja paling pintar di sekolah di masa nya dulu?!”, batin ChanYeol memandang BaekHyun tak percaya.

 

 

 

-Next Day-

“Lee JunHee…!”, panggil BaekHyun sembari mengejar yeoja yang berjalan cepat di depannya.

Yeoja itu menoleh ke arah suara. BaekHyun tersenyum menyambutnya.

“Wae?”, tanya yeoja bernama JunHee itu dengat raut wajah datar.

Senyuman BaekHyun memudar seketika, ia berharap JunHee akan membalas senyumannya dengan senyuman hangat atau kata-kata rindu.

“Eumm.. Akhir-akhir ini kau sangat sibuk, jadi kita jarang bisa bertemu. Malam ini sediakan waktu untuk ku yaa..?”, pinta BaekHyun menatap JunHee penuh harap.

“Tidak bisa. Hari ini aku harus melakukan penelitian di laboratorium kimia, dan mungkin sampai malam.”, terang JunHee menolak.

“Oh.. Sebenarnya aku ingin memberimu sesuatu, tapi aku sedang tak membawanya. Kalau begitu aku akan ke rumah mu malam nanti jika kau sudah pulang.”, ujar BaekHyun.

“Terserah kau saja. Aku pergi dulu.”, ucap JunHee menyunggingkan senyuman tipisnya dan berlalu dari hadapan BaekHyun.

BaekHyun menghela nafasnya ,”Sebenarnya dia yeojachingu ku bukan sih?”, gumamnya lalu menggebungkan pipinya.

 

@20.00 KST

Sudah hampir 1 jam BaekHyun menunggu JunHee di depan rumahnya. Lampu-lampu rumah JunHee belum menyala, karena sang tuan rumah sedang tak ada di rumah.

Tak lama kemudian, terlihat JunHee berjalan pelan dari ujung jalan. Walau masih cukup jauh dari penglihatannya, itu sudah membuat BaekHyun tersenyum senang.

 

BaekHyun berlari menghampiri JunHee, dan langsung memeluk JunHee.

“Aku merindukanmu, JunHee-ya..”, ungkap BaekHyun.

JunHee melepas pelukan BaekHyun, tentu membuat BaekHyun menatapnya heran.

“Bukankah tadi pagi kita sudah bertemu.”, ujar JunHee datar.

“Hehehe.. Benar, tapi aku kan belum sempat melepas kerinduanku padamu beberapa hari ini.”, terang BaekHyun.

Tanpa membalas apapun, JunHee melanjutkan langkahnya menuju rumahnya. BaekHyun pun mengikutinya dari belakang.

 

“Aku duduk di teras saja..”, ujar BaekHyun pada JunHee yang hendak memasuki rumahnya.

“Siapa juga yang menyuruhmu untuk masuk ke dalam rumahku.”, balas JunHee bernada dingin ,lalu masuk ke dalam rumahnya.

Perasaan BaekHyun sebenarnya cukup tergores atas sikap yeojachingu nya itu, namun ia tak menghiraukan rasa sakitnya itu.

 

BaekHyun meletakkan bingkisan yang daritadi dibawanya di meja teras, lalu ia melihat-lihat tanaman yang tertata rapi di halaman rumah keluarga Lee JunHee. BaekHyun menatap lekat-lekat bunga-bunga yang tumbuh indah.

“Kau tahu? Lee JunHee lebih cantik dari kalian..”, gumam BaekHyun tersenyum.

 

Tak lama kemudian JunHee keluar dari dalam rumahnya dengan membawa secangkir teh untuk BaekHyun.

BaekHyun menghampirinya dan memulai pembicaraan. “Bagaimana penelitian mu hari ini? Aku yakin kau melakukannya dengan baik. Tapi kau terlihat lelah..?”, tanya BaekHyun sembari membelai lembut rambut JunHee yang terurai.

 

JunHee menyentuh tangan BaekHyun yang membelai lembut helai demi helai rambutnya, lalu menjauhkan tangan BaekHyun tersebut dari rambutnya.

“Bukankah kau ingin memberiku sesuatu?”, tanya JunHee.

“Oh! Ne! Ini..”, Baekhyun memberikan bingkisan yang ia letakan di meja tadi pada JunHee.

JunHee membuka bingkisan itu.

“Aku pikir itu cocok untukmu. Gunakan secara rutin agar kau semakin cantik, chagi..”, jelas BaekHyun.

“Gomawo.”, ucap JunHee singkat.

“Ini sudah malam, lebih baik kau segera pulang! Bukankah besok pagi kau ada kuliah?!”, lanjut JunHee.

JunHee masuk ke dalam kamarnya dengan membawa sepaket komestik pemberian BaekHyun. Ia tersenyum kecut memandang apa yang sedang ia bawa. Tanpa ragu ia memasukkan kosmetik-kosmetik yang masih terkemas rapi itu ke dalam laci dengan sedikit kasar.

 

 

 

-a few days later-

@ Canteen

“Kau mau pesan apa, JunHee-ya?”, tanya seorang namja pada JunHee.

“Eumm,,  sama sepertimu saja.”, jawabnya singkat.

“Okay..”, balas namja itu.

“SeHun-i, aku lelah..”, ungkap JunHee menatap lesu makanan yang terhidang di hadapannya.

“Arrasseo, nado. Penelitian itu sungguh melelahkan.”, balas namja bernama SeHun itu sembari melahap makanannya semangat.

“Ya!! Bukan itu maksudku, Oh SeHun..!”, ujar JunHee kesal.

“Mwo??! Lalu? Aiiisssh, cerita yang jelas! Aku bukan psikolog yang bisa membaca pikiranmu, apalagi perasaanmu, Lee JunHee!”, ujar SeHun tak kalah kesal.

 

JunHee menghela nafasnya. “Byun BaekHyun.. Aku lelah seperti ini terus.”, terangnya.

Dddrrrttt… Belum sempat SeHun menanggapinya, ponsel JunHee bergetar.

“BaekHyun…”, gumam JunHee menatap layar ponselnya.

SeHun menatapnya penuh tanya. JunHee yang tahu maksud tatapan SeHun, tersenyum padanya. “Hanya pesan singkat darinya.”, ujar JunHee.

SeHun hanya mengangguk paham dan melanjutkan makannya.

From : Byun BaekHyun

Chagi,, aku ingin kita bermain.. Aku sudah di depan Lotte World sekarang. Kemarilah.. Aku menunggumu. ^^

 

@Lotte World

“Tik tok tik tok tik tok..”, gumam BaekHyun menatap jam tangannya.

Sudah hampir 1 jam ia menunggui JunHee, namun tak ada tanda-tanda kedatangannya, bahkan JunHee tak membalas pesan singkat yang ia kirim tadi.

BaekHyun menghela nafas beratnya, keinginannya untuk berkencan dengan JunHee pupus. Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan taman bermain itu.

Namun suara seorang yeoja, menghentikan langkahnya. “Byun BaekHyun..!”, panggil yeoja itu.

 

BaekHyun  menoleh ke arah suara. “Byun BaekHyun? Kau benar Byun BaekHyun kan?”, tanya yeoja itu mendekati BaekHyun.

“Ne.”, jawab BaekHyun ragu sambil memandang yeoja itu penuh tanya.

“Senang bertemu denganmu lagi. Apa kau masih mengingatku? Kita pernah bertemu di rumah makan Do KyungSoo, saat makan bersama dalam rangka pembukaan restoran.”, terang yeoja itu.

“Oh, ne! Aku ingat! Nona Choi MinHee??”, jawab BaekHyun.

“Hahaha. Ne. Kau kesini sendiri?”, tanya MinHee.

“Hehehe. Iya, tapi karena tak ada yang menemaniku aku ingin pulang saja.”, jawab BaekHyun.

“Bagaimana kalau denganku? Eumm,, tapi aku tak sendiri. Tentunya aku bersama nampyeon ku, Lee JinKi. Dia sedang antri tiket disana.”, jelas MinHee.

“O.. Kalau begitu lebih baik aku pulang saja, aku takut akan mengganggu acara kalian.”, tolak BaekHyun lembut.

“Tidak akan. Ayolah!”, ajak MinHee.

 

Akhirnya BaekHyun menerima ajakan MinHee. Lee JinKi pun juga tidak keberatan, ia kan nampyeon yang pengertian… kkkk~^^

BaekHyun mengikuti langkah pasangan suami istri itu, dan tentunya sambil mengobrol. Mereka cukup akrab, karena Lee JinKi adalah songsaenim BaekHyun di masa SMA nya dulu.

“Oppa, aku ingin naik bianglala..”, pinta MinHee pada JinKi.

“Shirreoyo, kita coba permainan itu saja.”, tolak JinKi.

“Oppa….”, rengek MinHee. Namun JinKi tetap tidak ingin mengiyakan permintaan MinHee.

 

“Ya sudah. BaekHyun-sshi, mau menemaniku?”, tanya MinHee.

“Mwo? Aku? Hehehe.. Mianhe, aku takut..”, bohong BaekHyun.

“Aigoo, kau payah!”, ejek MinHee. BaekHyun hanya tersenyum paksa menanggapinya.

“Baiklah, aku akan menemanimu. Tapi setelah naik bianglala, kita coba permainan itu yaa..?”, tawar JinKi. MinHee pun mengangguk semangat menyetujuinya.

“Lebih baik aku jalan-jalan sendiri. Mr.Lee dan Mrs.Lee selamat bersenang-senang.. Gamsahamnida. Annyeong~”, pamit BaekHyun meninggalkan mereka berdua.

BaekHyun berjalan pelan menikmati keramaian, tak ada satupun wahana permainan yang menarik hatinya.

“Pasangan itu lagi.. Tak ku sangka aku bisa melihat mereka lagi. Pasangan favoritku.”, gumam BaekHyun memandang mereka kagum.

 

“Oppa, aku takut ketinggian… Aku tidak mau naik wahana itu!”, rengek si yeoja sambil menggandeng namja nya erat.

“YongEun-i,, kan ada aku.. Jadi kau tidak perlu takut! Kau bisa memelukku nanti, chagi..”, ujar namja itu.

“Kyaa!! Kau mau ambil kesempatan yaa, Tuan Lay..?!!”, kesal yeoja itu sambil mencubit lengan namja yang dipanggil Lay.

“Aigoo, appo, chagi..”, rengek Lay manja.

 

BaekHyun tertawa kecil melihat pertengkaran kecil pasangan itu. Namun, sesaat kemudian senyumnya memudar, sekilas kenangannya bersama JunHee beberapa bulan lalu berputar memenuhi pikirannya.

“Dasar plagiator! Tanpa meniru kemesraan mereka pun, menurutku, kita sudah menjadi pasangan yang sangat manis..”

Kata-kata itu terngiang di benaknya, kata-kata yang dulu diucapkan oleh yeoja yang ia sayangi, Lee JunHee.

 

[FLASHBACK ON]

“JunHee-ya, lihat pasangan itu! Mereka pasangan yang manis yaa,, begitu mesranya mereka. Aku ingin seperti mereka!”, ujar BaekHyun.

“Dasar plagiator! Tanpa meniru kemesraan mereka pun, menurutku, kita sudah menjadi pasangan yang sangat manis..”, balas JunHee sambil mengeratkan gandengannya di lengan BaekHyun.

“Jinja? Hahaha.. Benar juga..”, ucap BaekHyun sambil mengacak rambut JunHee pelan.

“Kyaa!! Oppa!!”, pekik JunHee kesal.

[FLASHBACK OFF]

 

 

@22.00 KST

BaekHyun melepas lelah di tempat tidurnya. Ia sandarkan tubuhnya pada dashbor bed nya, dan menengadahkan kepala menatap langit-langit kamarnya.

“Aku merasa JunHee berbeda dengan yang dulu.”, gumam BaekHyun.

 

Brakkk.. Suara pintu kamar BaekHyun terbuka dengan kasar.

“Kyaaa!!!!”, teriak BaekHyun kaget.

 

“Byun BaekHyun, aku merindukanmu!!”, teriak namja yang membuka pintu kamar sembari berlari ke arah BaekHyun.

“Aigoo, Kim MinSeok?!!! Ah, ani! XiuMin, babo!! Kau?!! Kapan kau datang??”, tanya BaekHyun yang sudah berada dalam pelukan namja itu.

 

Namja berpipi chubby itu melepas pelukannya. “Baru saja, setibanya dari China aku langsung kemari. Selama di Seoul aku menumpang tinggal disini yaa??”, terang XiuMin.

“Hahaha.. Baiklah, tapi kau tahu kan apa yang harus kau lakukan  jika tinggal bersamaku..?”, tanya BaekHyun.

“Arrasseo.. Membeli bahan makanan dengan uangku. Aiiissh!! Kau ini!”, jawab XiuMin malas.

Setelah menata barang-barang bawaan XiuMin, mereka berdua berbaring di tempat tidur dengan nyaman.

“BaekHyun-ah..”, lirih XiUmin.

“Eummb..”, balas BaekHyun yang sudah hampir menutup rapat matanya.

“Apa Lee JunHee masih bersamamu?”, tanya XiuMin.

“Ne. Hubungan kami baik-baik saja.”, jawab BaekHyun.

“Jinjayo??”, tanya XiuMin tak percaya.

“Ye. Tapi, Akhir-akhir ini sikapnya berbeda.”, ujar BaekHyun.

XiuMin menatapnya sendu, tanpa BaekHyun sadari.

 

“Sebenarnya……”, ucap MinSeok menggantung ucapannya.

“Jangan beritahu hal ini pada Byun BaekHyun! Kalau kau mengatakannya, aku akan melakukan hal seperti yang telah kau duga!”

Kata-kata itu terngiang di ingatan MinSeok. Hingga akhirnya ia enggan melanjutkan kata-kata yang sebenarnya ingin ia sampaikan pada BaekHyun.

“Wae?”, tanya BaekHyun.

“Sebenarnya aku sudah mengantuk. Aku ingin tidur. Jaljayo!”, ujar XiuMin asal.

“Aiissh!! Dasar!!”, geram BaekHyun.

Akhirnya mereka pun telah berangkat ke alam mimpi masing-masing.

 

-TBC-

 

RCL yaa ,, readers… Biar aku semangat ngelanjutinnya.. yg panjang komennya.. ^^ Kalo ketauan ada yg gak komen,, author nangis niie… >.< #lebay#

Gomawoyo sebelumny u/ smua…

Oiya,, Happy Holiday yaa~~😀

FF >> “Love at First Sight” (2/2) B

LuHan EXO-M

Love at First Sight

Author          : Lee TaeRin [Tarina aka TARinWish]

Cast               :

EXO-M’s LuHan

EXO-M’s Chen as Chen aka Kim JongDae

Ok HyeJin (OC)

Super Junior KangIn as KangIn

Genre           : Romance

Rating           : PG-16

Lenght          : TwoShoot

*Author POV*

“Do you love me?”, tanya LuHan menatapnya dalam.

“No.”, jawab HyeJin singkat.

“……”

“But, I’ll love you ,maybe tomorrow.”, lanjut HyeJin membuat LuHan tersenyum mendengarnya.

“Aku mau tidur, jangan ganggu aku!”, ucap HyeJin membalikkan dirinya lalu menyelimuti sekujur tubuhnya.

“Besok? Besok itu kapan?”, lirih LuHan masih tersenyum memandangi punggung HyeJin yang sudah terselubung selimut, Walau ia belum mendapatkan jawaban yang memuaskan. LuHan pun mulai terlelap dengan mengulas senyum.

 

-Next Day-

*LuHan POV*

Setelah menginap di rumah bibi semalam, aku dan HyeJin pun berpamitan pulang ke Seoul, dan mempir ke hotel untuk mengemasi barang-barang kami disana.

“HyeJin-ah, have you loved me?”, tanyaku di ketika kami sudah duduk nyaman di dalam pesawat.

“Not yet.”, singkat HyeJin.

“Lalu kapan?”, tanyaku lagi.

“Besok, atau besoknya lagi, atau besok besoknya lagi.”, ujar HyeJin lalu menutupi wajahnya dengan majalah.

 

-3 Days later-

*HyeJin POV*

Hari ini aku mengunjungi umma ku setelah sekian lama aku tak bertemu dengannya, karena harus tinggal di apartemen bersama Xi LuHan.

“Umma….!”, teriakku memasuki rumah.

“HyeJin-ah…. Oh!! Bogoshipoyo…”, ujar umma memelukku.

“Aku juga ingin dipeluk umma…”, rengek LuHan manja. Umma pun segera beralih memeluk LuHan.

“Haha.. Menantuku yang tampan!”, ujarnya membuatku melihatnya kesal.

@Kitchen

“Seharusnya kalian beri tahu umma dulu kalau ingin kemari..”, kata umma sibuk menyiapkan hidangan untuk kami.

“Kami kan ingin memberi kejutan, umma..”, jawab LuHan tersenyum manis sambil membantu umma mencuci sayuran. Sedangkan aku sibuk memotong wortel.

“Kau ini tipe namja yang romantis yaa?? Beruntung Ok HyeJin memilikimu!”, puji umma membuatku semakin mual mendengarnya.

“Hahaha.. Jinjayo? Aku juga beruntung bisa mendapatkan Ok HyeJin ,umma.”, balas LuHan.

“Aww!!!”, rintihku spontan, jariku tanpa sengaja tergores pisau.

“HyeJin-ah! Omo~ Makanya hati-hati! Biar aku o…”, serunya memeriksa jariku yang terluka.

Aku melepasnya dengan kasar, “Biar ku obati sendiri!”, ujarku dingin meninggalkan mereka.

*Author POV*

“Biar ku obati sendiri!”, ucap HyeJin dingin beranjak menuju kamarnya.

LuHan hanya menatapnya sendu.

“LuHan..”, lirih umma HyeJin menepuk bahu LuHan.

“Oh, ne! Oiya, akhir pekan akan ini aku akan diangkat sebagai penerus SXI Group ,umma. Saat itu juga kami akan meluncurkan produk baru ‘SPIXI’. Umma, doakan acaranya akan berjalan lancar ya?!”, terang LuHan.

“Tentu.”, balas umma HyeJin mantab.

*HyeJin POV*

Aku masuk ke dalam kamar yang lama tak ku singgahi. Ku hela nafas beratku, dan menatap teduh cincin pernikahan yang melingkar di jari manisku.

“Aku masih belum menyadarinya.”, gumamku.

Dreeeeg… “Kau….”, lirihku menatap malas LuHan yang membuka pintu kamarku ,lalu duduk di sampingku.

“Oiya, hari ini aku belum menanyakannya kan.. Have you loved me?”, tanya LuHan.

“Belum.”, jawabku singkat.

“LuHan!! HyeJin!! Makanan sudah siap..!”, teriak umma dari dapur. Aku pun beranjak keluar kamar.

“HyeJin-ah..”, panggil LuHan menghentikan langkahku.

“Aku akan menjadi seorang namja yang lebih dari yang kau impikan! Don’t miss it!”, ujarnya mantab. Aku pun tersenyum, lalu meninggalkannya yang masih terduduk di tempat tidurku.

 

-SPIXI Launching-

*Author POV*

“Selamat… Lanjutkan kesuksesan Appa Anda.. Saya lihat Anda memiliki potensi yang besar.”, ucap salah seorang relasi bisnis Tn.Xi. LuHan menyunggingkan senyuman ramah dan mengucapkan terima kasih padanya.

“Acara inti akan segera dimulai, saya permisi..”, pamit LuHan hendak menuju panggung.

HyeJin dan Ny.Xi sedang mengobrol bersama dengan para nyonya pemegang saham SXI group. Ny.Xi pun memperkenalkan HyeJin sebagai menantunya kepada relasi-relasinya tersebut, memang pernikahan Xi LuHan dan Ok HyeJin berlangsung tertutup, jadi tak banyak orang yang tahu kejelasannya. Namun, kini tak ada lagi kasak-kusuk tak jelas. HyeJin tak sedikitpun memperlihatkan rasa canggung, ia terlihat nyaman mengobrol dengan relasi-relasi keluarga Xi.

Acara inti peluncuran produk terbaru pun dimulai, HyeJin mengalihkan pandangannya ke arah Xi LuHan yang sudah berdiri di panggung.

“Aku akan menjadi seorang laki-laki yang lebih dari yang kau impikan! Don’t miss it!”, kata-kata LuHan beberapa hari lalu terlintas di ingatan HyeJin. Ia tersenyum kagum melihat LuHan mengeluarkan kata-kata sambutan dengan penuh wibawa.

“Umma.. Dimana HyeJin?”, tanya LuHan pada Ny.Xi selesai ia dari panggung.

“HyeJin? Eummm… Tadi ia berada di samping umma..”, jawab Ny.Xi ragu. Luhan pun bergegas mencari HyeJin keluar ruangan.

HyeJin berdiri tegap di depan kolam renang. Entah apa yang sedang ia pikirkan, ia hanya terdiam memandang kosong ke depan.

“Apa yang kau lakukan disini?”, tanya LuHan menemukan keberadaan diri HyeJin. HyeJin pun menoleh ke arahnya.

“Kau tak melihatku tadi? Aku kecewa.”, ujar LuHan mensejajarkan dirinya di samping HyeJin.

“Aku melihatmu.”, jawab HyeJin.

“Geurae? Apa aku mempesona saat berbicara di depan tadi?”, tanya LuHan semangat.

“Iya, kau sangat mengagumkan, sampai rasanya aku ingin pingsan karena melihat pesona mu itu..”, ujar HyeJin asal.

LuHan tersenyum tipis, “Ku harap itu kata-kata yang jujur dari hatimu.”, lirihnya. HyeJin menatap Luhan heran. Sejenak keheningan menyelimuti keduanya.

“Sudahkah kau mulai menyukaiku?”, tanya LuHan.

“Belum sepenuhnya.”, jawab HyeJin.

“Why did you want to marry me?”, tanya HyeJin. LuHan menoleh ke arah HyeJin dan menatapnya, namun ia tak mengucapkan apapun.

“Kau tahu aku belum sepenuhnya menyukaimu, tapi kenapa kau memaksaku untuk menjadi istrimu?! Bagaimana bisa kau mencintaiku dalam proses sekejap?!”, tanya HyeJin. LuHan tak menjawabnya, ia hanya tersenyum lembut. HyeJin mendengus kesal, karena ia tak mendapat jawaban yang ingin ia dengar.

“Asal kau tahu yaa, sebenarnya kau jauh dari tipe pria idamanku!”, ungkap HyeJin.

LuHan pun angkat bicara, “Mwo?!  Asal kau tahu juga, aku ini pria yang tampan dan manis, romantis pula. Selain itu aku juga cerdas dan kaya. Apa yang kurang dari diriku di matamu? Dari segi fisik aku pikir tidak ada masalah?!”, ungkap LuHan percaya diri.

HyeJin memandang malas LuHan, “Percaya diri sekali kau! Kau tak sekeren Max ChangMin DongBangShinKi.”

“Mwo?!! Aiisssh!! Seleramu itu pasaran sekali..!”, ejek LuHan.

 

-3 months later-

*Author POV*

LuHan mendatangi Seoul University untuk menemui Chen yang masih menjadi mahasiswa disana.

“Chen…!!! Kim JongDae!!!”, teriak LuHan memanggil Chen yang sedang berjalan memasuki kampus Seoul University.

“LuHan..!”, kejut Chen melihat LuHan berlari menghampirinya.

“Aku kira kau sudah lupa denganku.”, ledek Chen memandang Luhan yang masih ngos-ngosan mengatur nafasnya.

“Sekarang kau ini serba sibuk ya?! Aku yakin tujuanmu kemari bukan karena kau merindukanku.”, ujar Chen.

“Hehehe.. Chen-i, bantu aku mencari sebuah buku di perpustakaan yaa..?”, pinta LuHan to the point.

“Aiiiissh!! Sudah kuduga, kau kemari hanya untuk memanfaatkanku. Memang buku apa yang ingin kau cari?! Bukankah ada banyak toko buku di Seoul, kenapa harus repot-repot kemari?!”, tanya Chen.

“Aku pikir akan lebih mudah mencari buku itu dimana pertama kali aku menemukannya. Judulnya ‘Love at First Sight’, aku pernah meminjamnya. Bantu aku mencarinya ya?!”, terang LuHan memohon.

“Baik.. Karena aku ini namja yang pandai, baik hati, dan sedikit sombong, aku akan menemanimu mencarinya.”, jawab Chen. Mereka pun beranjak menuju perpustakaan Seoul University.

“Apa ini buku yang kau cari?”, tanya Chen menunjukkan buku yang ia temukan pada LuHan.

“Ne! Ini bukunya!!”, balas LuHan kegirangan.

“Kalau aku meminjamnya dan tak ku kembalikan apa itu melanggar hukum?”, gumam LuHan innoncent.

“Aiiissh!! Anae mu itu seorang jaksa! Apa kau tidak malu?! Itu sama saja mencuri, babo!! Kau beli saja buku ini!”, saran Chen.

“Apa boleh?”, tanya LuHan.

“Coba saja! Aku sangat mengenal penjaga perpustakaan ini, akan ku bantu kau membujuknya.”, ujar Chen.

“Jeongmal?!! Oh, Chen-i… Kau memang daebak! Tak salah orang tuamu memberi nama JongDae padamu.”, puji LuHan. Chen pun tersenyum bangga mendengarnya.

“Kangin ajjusshi,, jebalyo..”, pinta Chen memasang wajah memohon.

“Ajjusshi, aku akan membayar berapa pun untuk memiliki buku ini. Ini sangat penting bagiku..”, terang LuHan.

“Memangnya di seluruh Korea Selatan, hanya di perpustakaan ini yang punya buku ini?! Kau bisa mencarinya di toko buku lain kan?!”, ujar Kangin, petugas perpustakaan Seoul University.

“KangIn ajjusshi, kami tidak bodoh! Buku ini terbitan lama! Mana mungkin masih terjual di toko-toko buku?!”, terang Chen tak mau kalah.

“Eumm, buku ini punya kesan dan  kenangan tersendiri… Aku pernah menjatuhkan buku ini. Lihat! Masih ada bekas kotornya kan?! Buku ini yang menjadi saksi bisu pertemuanku dengan istriku. Aku mohon~~”, jelas LuHan.

“Kau ini dramatis sekali…”, gumam Chen memandang LuHan aneh.

“Omona… Huuuhft.. Arrasseo! Arrasseo! Berhentilah memasang wajah memohon seperti itu! Akan ku berikan buku ini untukmu, tapi kau berani bayar berapa?”, tanya KangIn.

“Eumm… 10000 Won?!!”, seru Chen. Namun KangIn menggelengkan kepalanya mantab.

“20000 Won?!”, tawar LuHan.

“Aiissh!! Bukankah buku ini sangat berkesan dan berharga bagimu?! kenapa hanya segitu, haa??!”, ujar KangIn tak puas.

“Aigooo, KangIn ajjusshi sungguh materialistis!! Aku yakin harga sebenarnya tidak sampai segitu!”, terang Chen.

“Ckck.. Tambahkan 10000Won, eottae?!”, tawar KangIn.

“Mwo??! Kau ingin memanfaatkan kami?!”, kejut Chen.

“Baik!!”, jawab LuHan mantab menyetujuinya. Chen sontak memelototi LuHan.

“Aku hanya terima uang tunai!”, ucap KangIn menyerahkan buku itu pada LuHan.

“Chen-i… Aku tidak membawa uang tunai..”, bisik LuHan.

“Mwo??!!! Aigooo..!!”, keluh Chen.

“Aku akan mengganti uangmu nanti plus bunganya.”, bujuk LuHan.

Chen memutar bola matanya, dan terpaksa merelakan 30000 Won nya untuk KangIn.

-@10.00 PM-

*HyeJin POV*

“Huuuhft.. Sungguh melelahkan.”, keluhku membaca dokumen demi dokumen yang menumpuk di meja kerjaku.

“Jaksa Ok..”, panggil seorang pegawai menghampiriku.

“Ada sebuah kiriman untuk Anda.”, ujarnya menyerahkan sebuah bungkusan kado padaku.

“Gamsahamnida, Nona Ahn. Eumm, ini dari siapa?”, ucapku.

“Itu rahasia. Anda akan tahu jika Anda  sudah membukanya, begitu kata sang pengirimnya. Saya permisi.”, jawab Nona Ahn tersenyum jahil.

Setelah Nona Ahn pergi, aku pun segera membuka bungkusan tersebut. “Pasti dari Xi LuHan.”, gumamku bungkusan kado yang berisi sebuah buku, lalu mulai membaca surat yang ada di dalamnya.

“Kau pernah bertanya, why I wanted to marry you. Bacalah buku ini! Buku ini tidak terlalu tebal, aku yakin dalam waktu 15menit kau sudah selesai membacanya.”

Aku pun mengamati buku tersebut. “Love at First Sight. Eumm, Ini seperti buku bekas.”, gumamku mengamati penampilan buku tersebut.

Entah kenapa, buku ini membuatku tersenyum ketika membacanya. Di halaman terakhir, terdapat tulisan tangan yang ku yakini itu tulisan tangan LuHan.

“Sudah selesai membacanya?? Apa kau tersentuh? Buku ini memang bukan aku yang mengarangnya, tapi buku ini mewakili isi perasaanku saat pertama kali melihatmu, Ok HyeJin. Kecelakaan kecil itu adalah kecelakaan terindah seumur hidupku, walau memang sedikit sakit. Aku menyukaimu pada pandangan pertama. Mianheyo, saat itu aku tak melakukan apapun selain menatapmu kagum. Oiya, tapi aku ingat kau bilang, bahwa selain buta aku juga tuli. Hahaha.. Itu salahmu yang membuat saraf-sarafku terganggu!! Ku harap kau akan tersentuh dengan hadiah kecil ini. Saengil Chukkaheyo naui sarang… Saranghaeyo yeongwonhi, Ny.Xi~^^”

“Xi LuHan.. Kau ini benar-benar!!”, gumamku menutup buku itu dan menyimpannya ke dalam tasku.

Aku memegangi kedua pipiku yang ku yakini pasti memerah karena mengingat nampyonku satu-satunya itu.

*LuHan POV*

Aku sengaja memarkirkan mobilku tepat di depan kantor kejaksaan dimana HyeJin bekerja, kantornya sudah sangat sepi. Aku yakin banyak pegawai yang sudah pulang, kecuali anae ku.

“Apa tugasnya begitu banyak? Kenapa dia belum juga keluar?”, gumamku bersandar di badan mobil sambil memain-mainkan kaleng minuman yang ku buang sembarang dengan kakiku.

Tak lama kemudian ku lihat HyeJin keluar dari kantornya. Kami saling menatap. Dapat kulihat senyuman lembutnya mengarah padaku.

“Mianhe..”, ucapnya menghampiriku.

“Gwaenchanayo.. Kajja!”, balasku hendak membuka pintu mobil. Namun tangan HyeJin menggenggam tanganku lembut. Aku menatapnya bingung.

“Eumm… Kita mau pulang?”, tanyanya.

“Kalau tidak pulang ke rumah, memangnya kau mau kemana lagi?”, tanyaku innoncent.

“Kau ini!!! Apa kado ulang tahunku hari ini hanya sebuah buku?! Setidaknya ada makan malam, atau..”, ungkapnya. Dapat kulihat raut wajahnya yang malu-malu.

“Makan malam romantis? Bunga? Aku tidak tahu kau akan mengharapkan hadiah seperti itu..”, sindirku berhasil membuatnya cemberut.

“Hahaha.. Jangan memasang wajah ikan seperti itu! Aku sudah menyiapkannya di rumah. Aiiiissh!! Ini bukan surprise lagi namanya.”, ujarku agar membuatnya tersenyum. Kami pun masuk ke dalam mobil.

-ONtheWay-

“Xi LuHan.. Kau tak ingin menanyakan hal yang biasa kau tanyakan setiap hari? Sepertinya kau belum menanyakan hal itu hari ini.”, ungkap HyeJin pelan.

“Jinja? Eumm,, Aku lelah menanyakannya. Sudah hampir 100hari aku menanyakan hal itu padamu, tapi jawabannya tetap sama ‘not yet’, ‘tomorrow’.”, jawabku.

Ku lirik HyeJin menundukkan wajahnya. Aku pun menepikan mobilku dan menghentikannya di pinggir jalanan yang sepi.

Aku menghadapkan diri ke arahnya, “Have you loved me?”, tanyaku membuat HyeJin menegakkan wajahnya memandangku.

“Mianhe.. Aku terlalu bodoh, aku tak peka pada perasaanku selama ini. Aku…”

Ku raih tengkuknya sebelum ia melanjutkan jawabannya. Chu~

“Yaa! Dengarkan aku dulu!”, protes HyeJin melepas ciumanku.

“Jangan terlalu banyak penjelasan! Katakan saja bahwa kau menyukaiku.”, balasku.

“I have liked you since I met you at the 3rd time. Wo Ai Ni.”, ungkapnya tulus. Aku pun memeluknya erat.

“Yaa!! Aku sulit bernafas!”, protesnya lagi.

“Berjanjilah mulai sekarang kau berperilaku baik dan lembut padaku! Panggil aku yeobo!! Arrachi?!!”, perintahku mempererat pelukanku.

“Ne, yeobo.. Lepaskan pelukanmu!! Sesak!”, balasnya. Aku pun melepas pelukanku.

“Oiya! Kau menyukai saat kita bertemu ke tiga kalinya?”, tanyaku.

“Ne. Saat kau menyaut earphone ku dan meledekku.”, terang HyeJin. Aku mengerutkan keningku tak mengerti.

“Saat itu aku memintamu untuk tidak mengusik ku. Dan kau malah meminta maaf karena sudah membuatku tidak nyaman, lalu pergi dengan raut wajah yang kecewa. Beberapa hari kemudian kau tak sekalipun menampakkan batang hidung mu kan?! Entah mulai saat itu perasaanku sedikit terganggu karena memikirkanmu.”, terang HyeJin membuatku tersenyum mengerti.

Aku terus memandangnya dengan mengulas senyuman, hingga membuatnya salah tingkah. “Apa yang kau lihat?!”, seru HyeJin.

“Menurutmu apa yang kulihat?”, balasku santai.

“Aiiiiisssh!!! Yaa!!! Jangan memandangiku seperti itu! Lebih baik cepat kau starter mobil dan meluncur ke rumah!!”, perintahnya membuatku terkekeh.

“Kau mulai jahat lagi..”, gumamku mulai menyetarter mobil tanpa dipedulikannya.

*Author POV*

Sesampainya di apartemen tempat tinggal LuHan dan HyeJin, HyeJin mendahului langkah LuHan untuk memasuki apartemennya.

“Tidak ada apapun..”, gumam HyeJin lalu menatap tajam LuHan.

“Wae?”, singkat LuHan.

“Bukankah kau bilang sudah menyiapkan sesuatu di rumah?”, tanya HyeJin.

“Mwo? Jinja? Hehehe.. Aku hanya asal bicara tadi.”, jawab LuHan enteng.

“Jadi..?”, gumamnya.

“Jadi hari ini aku hanya memberi buku itu sebagai hadiah ulang tahunmu.”, terangku santai, lalu memasuki kamarku. Dapat kudengar ia mendengus kesal ketika aku beranjak meninggalkannya. Kkk~

*HyeJin POV*

“Aiiiish!!! Dia tidak seromantis yang ku bayangkan.”, kesalku dalam hati. Aku pun memasuki kamarku, namun ada suatu perasaan yang membuatku enggan memasuki kamarku sendiri. Aku menengok ke kamar LuHan yang pintunya terbuka. Dapat kudengar suara shower yang menyala, dan aku yakin pasti dia sedang mandi.

Ku beranikan diri untuk memasuki kamar LuHan, kamar yang tak pernah kusinggahi sejak kami menikah. Selama ini kami belum pernah tidur sekamar, kecuali saat kami di rumah keluarga Xi LuHan di Beijing.

“Dia namja tapi sangat rapi.”, gumamku melihat-lihat isi kamarnya. Dan betapa terkejutnya aku melihat berbagai fotoku di salah satu meja kamarnya.

“Omo…! Kapan dia mengambil foto ini..?!”, kejutku. “Aiiiiissh!! Dia memfotoku diam-diam. Yaa!! Darimana ia mendapatkan fotoku ini..?!!”, kesalku.

“HyeJin…”, dapat ku dengar suara LuHan dari belakangku. Aku menoleh ke arahnya, dan menatapnya tajam.

“Eumm.. Kenapa kau memasuki kamarku? Apa ada barang yang kau cari?”, tanyanya dengan nada hati-hati.

“Tuan Xi, Kau begitu teramat sangat menyukaiku yaa?? Darimana kau dapatkan foto-fotoku ini?!”, tanyaku marah.

“Aku memfotomu diam-diam. Dan yang lain ku dapatkan dari umma.”, jawabnya.

“Ini termasuk tindak kriminal, kau tahu?! Memotret tanpa seizin orangnya sama saja penyelewengan hak cipta!!”, ujarku tegas, namun asal.

“Kalau aku minta izin, apa kau akan mengizinkannya?!”, protesnya.

“Aiiissh!!! Dasar pencuri! Aku harus memberimu hukuman!!”, sentakku lalu mendekatinya dan berdiri tepat di depannya.

Ku jinjitkan kedua kakiku, agar tinggiku setara dengannya.

“Aku hanya akan mengucapkannya sekali, jadi dengarkan baik-baik!”, bisikku tepat di telinganya. LuHan terpaku mendengarnya.

“Kau divonis mencintaiku seumur hidup! Arrachi?!”, lanjutku.

*Author POV*

“Kau divonis mencintaiku seumur hidup! Arrachi?!”, bisik HyeJin namun terdengar sangat jelas oleh LuHan. HyeJin hendak menjauhkan dirinya dari LuHan, namun LuHan lebih dulu memeluk tubuhnya erat.

“Dilarang berteriak atau menolak!! Atau kau mendapat hukuman dariku!”, ujar LuHan memperingatkan.

HyeJin hanya terdiam. “Gomawo.”, ucap LuHan mempererat pelukannya dan mencium lembut tengkuk HyeJin.

HyeJin pun tersenyum dan membalas pelukan LuHan. “Wo Ai Ni, Tuan Xi.”, ungkap HyeJin.

-END-

FF >> “Love at First Sight” (2/2) A

Love at First Sight

Author          : Lee TaeRin [Tarina aka TARinWish]

Cast               :

EXO-M’s LuHan

EXO-M’s Chen as Chen aka Kim JongDae

Ok HyeJin (OC)

Park JiYeon

Genre           : Romance

Rating           : PG-16

Lenght          : TwoShoot

*Author POV*

Mau tak mau HyeJin pun melanjutkan langkahnya yang terhenti. Namun langkah HyeJin terhenti oleh seseorang yang membekapnya dari belakang.

“Eummbb… Eummb..” Bruuk… Tubuh HyeJin lemas di dalam dekapan orang yang membekapnya tersebut. Lalu menyeret tubuh lemah HyeJin.

LuHan membalikkan tubuhnya dengan kesal. “Apa dia benar-benar tidak datang?! Aku ke rumahnya saja!! Dia harus mau menerima lamaranku!!!”, seru LuHan berjalan menuju rumah HyeJin.

Namun sebuah sepatu higheels tergeletak di tanah menghentikan langkahnya. “Ini… Bukankah ini milik HyeJin dariku..?”, gumam LuHan mengambil sepatu itu ,dan segera melihat sekelilingnya. Dilihatnya sebuah mobil yang mulai distarter dan melaju dengan kencang.

“Ok HyeJin!”, seru LuHan berfirasat buruk.

LuHan pun bergegas menuju mobilnya, dan mengejar mobil itu.

*Author POV*

Mobil yang membawa HyeJin berhenti di sebuah rumah mewah bergaya minimalis. Lalu membawa HyeJin ke dalam rumah tersebut. LuHan yang sudah memarkirkan mobilnya tak jauh dari mobil itu, langsung mengikuti orang tersebut masuk ke dalam rumah diam-diam.

LuHan bersembunyi di balik tembok, ia menahan emosinya ketika melihat HyeJin diikat oleh orang tersebut.

*HyeJin POV*

“Euuungh..”, keluhku mulai tersadar. Tubuhku terikat, aku pun tak dapat melihat apapun, mataku pun tertutup dengan ikatan kain yang cukup kuat.

“Ok HyeJin.. Kau sudah sadar?”, terdengar suara seorang yeoja mendekatiku.

“Siapa..?? Kau siapa?”, tanyaku mulai ketakutan.

“Kau tak mengenali suaraku, HyeJin-ah..? Kau sahabat yang kejam!”, ujarnya tepat di telingaku.

“JiYeon? Park JiYeon?”, tebakku hati-hati.

“Kalau benar, apa kau akan marah padaku?”, tanyanya.

“Mwo?! Apa yang kau lakukan?”, tanyaku.

“Menghalangimu bersama Xi-Lu-Han.”, jawabnya penuh penekanan. Aku terdiam mendengarnya, tanpa menanggapi apapun.

“Kau tak tahu kan, aku sudah lama mengincar Xi LuHan. Tapi tak tahunya kau duluan yang mengenalnya, terlebih lagi kalian saling menyukai. Ini tidak adil bagiku. Sebagai sahabatku maukah kau merelakannya untukku, HyeJin-ah?”, jelas Jiyeon sinis.

“Jika tidak, apa yang akan kau lakukan? Kau tak pernah mengatakan hal itu padaku. Jadi sekalipun kau sahabatku, sedikitpun aku tak merasa bersalah padamu, apalagi merelakan LuHan padamu.”, ujarku tanpa ragu.

*Author POV*

LuHan masih berdiri di tempatnya, mendengar percakapan mereka berdua, agar tahu akar masalahnya.

JiYeon tersenyum sinis mendengar perkataan HyeJin. “Bolehkah aku menghancurkanmu?”, ujar Jiyeon.

“Hanya karena Xi LuHan, kau berani melukaiku?! Nappeun yeoja!!”, seru HyeJin.

JiYeon mengelus lembut rambut HyeJin, lalu berkata, “Benar. Apa kau menyesal bersahabat denganku?”, lalu menjambak rambut HyeJin membuatnya meringis sakit.

Tangan JiYeon beralih ke wajah HyeJin, lalu mengelusnya. “Aku heran, kenapa tanpa perawatan pun wajahmu bisa sehalus dan sebersih ini. Rasanya aku ingin mencoret-coretnya, bolehkah?”, kata JiYeon lalu mengambil sebuah silet dari saku jeans’nya.

LuHan tak kuasa lagi menahan emosinya melihat HyeJin diperlakukan seperti itu, namun sebelum melangkah ia menelpon polisi agar segera datang ke rumah tersebut.

*LuHan POV*

Yeoja itu sudah berancang-ancang menyentuh pipi HyeJin dengan silet.

“Hentikan!!”, seruku mencergahnya.

“Xi.. LuHan..”, kejutnya melihatku hingga ia menjatuhkan benda tajamnya itu.

Aku pun menarik tangannya agar ia menjauh dari HyeJin. Lalu mendorongnya hingga jatuh ke lantai.

Aku berbalik menghampiri HyeJin, “HyeJin-ah, gwaenchana?”, tanyaku sembari melepas penutup matanya. Dia mengangguk, aku pun hendak melepas ikatan yang mengunci tangannya. Namun ada tangan kekar yang mencergahku, lalu mendorong tubuhku hingga membentur tembok.

“JiYeon-ah, lanjutkan saja!!”, perintah namja yang mendorongku tadi. Yeoja yang bernama JiYeon itu berusaha berdiri dan mengambil silet yang dijatuhkannya tadi. Lalu menghampiri HyeJin yang masih terikat di kursi.

Aku hendak mencegahnya, namun namja itu menahanku. “Kau bermain denganku saja!”, ucapnya.

“Taecyeon oppa, jangan terlalu serius! Jangan sakiti my prince!”, ucap JiYeon memperingatkan namja ini.

“HyeJin-ah, mungkin ini akan terasa sangat perih. Tapi tak seperih hatiku.”, ucap JiYeon dengan ekpresi datar, dan mulai menempelkan silet itu pada pipi kanan HyeJin.

Bruuuk.. Ku kerahkan seluruh tenagaku untuk mendorong namja kekar itu. Lalu mendorong JiYeon hingga menjauhi HyeJin.

*Author POV*

Buuuuk.. Satu pukulan keras mendarat ke wajah LuHan, hingga ia tersungkur di lantai. “LuHan!!”, pekik HyeJin.

“Park Taecyeon!! Hentikan!! Aku bilang jangan sakiti dia!!”, teriak JiYeon.

“Namja ini tak pantas kau sukai, JiYeon-ah!!”, seru namja bernama TaecYeon sembari meraih kerah kemeja LuHan.

HyeJin berusaha melepas ikatan talinya, namun tenaganya tak cukup kuat. TaecYeon berancang-ancang mendaratkan pukulannya ke arah LuHan, namun suara sirene polisi menghentikkan niatnya.

TaecYeon segera mendorong LuHan, hingga ia terjatuh. Lalu menarik JiYeon untuk melarikan diri, namun waktu tak berpihak pada mereka. Beberapa polisi sudah lebih dulu menyergap mereka.

“Anda juga harus ikut kami ke kantor, kami butuh kesaksian korban.”, ujar salah satu polisi tersebut.

“Mwo?!!! Sekarang tidak bisa, kami punya urusan yang lebih penting.”, tolak LuHan.

“Eumm.. Baiklah.. Tapi kami harap besok Anda berkenan untuk memberikan keterangan lebih lanjut.”, kata polisi tersebut.

“Ne. Gamsahamnida..”, ucap LuHan sambil menundukkan tubuhnya pada polisi tersebut.

LuHan menggendong HyeJin yang masih lemah akibat efek obat bius.

“Yaa!! Turunkan aku, Xi LuHan!! Aku bisa jalan sendiri!”, seru HyeJin enggan.

“Kau masih lemah. Selain itu, lihat! Kaki kirimu tak memakai alas apapun. Bagaimana bisa aku membiarkanmu jalan sendiri!”, ujar Luhan membawa HyeJin menuju mobilnya. LuHan membuka pintu mobilnya dan mendudukkan HyeJin di jok mobil.

“Bagaimana bisa kau tahu aku dibawa kesini..??”, tanya HyeJin. Luhan pun mengambil sebuah sepatu dari dalam mobilnya lalu menunjukkannya pada HyeJin.

“Ini.. Bagus kau meninggalkan ini tergeletak di jalan.”, terang LuHan sambil memakaikan sepatu higheels itu ke kaki kiri HyeJin.

HyeJin menatap LuHan yang ada tepat di hadapannya. “Kau terluka..”, gumam HyeJin.

“Mwo?! Jinja? Tapi tidak ada yang sakit kok.”, balas LuHan sambil tersenyum.  HyeJin pun menyentuh luka lebam di wajah LuHan ,lalu menekannya hingga LuHan kesakitan.

“Aww!!!! Appo, HyeJin-ah!! Aigooo…!”, pekik LuHan spontan.

“Bela diri mu sungguh buruk.”, ejek HyeJin.

“Ne, mianhe..”, balas LuHan lirih sambil menundukkan kepalanya.

“Untuk apa minta maaf? Kau kan sudah menolongku. Gomawo..”, ujar HyeJin. LuHan tersenyum membalasnya.

“HyeJin-ah, aku semakin yakin.”, ucap LuHan singkat.

“Mwo?!”, tanya HyeJin tak mengerti.

“Apa kau menyukaiku?”, tanya LuHan.

“Belum, sedikitpun belum.”, jawab HyeJin.

“Tapi meskipun belum, kau harus tetap menikah denganku!”, ucap LuHan.

“Aku tahu, tak ada alasan yang bagus untuk menolak paksaanmu.”

“Kau belum menyukaiku, tapi tadi kau bilang, kalau kau tak merelakan diriku pada JiYeon. Wae? Kau tahu, aku sangat terharu mendengarnya.”, ujar LuHan.

“Jinja?! Eummm… Entahlah..”, jawab HyeJin.

LuHan menghela nafas beratnya, “Kita harus segera menemui orangtuaku.”, lirih LuHan mulai menstarter mobilnya.

-Xi Family’s Home @ 11.00 KST-

*Author POV*

LuHan dan HyeJin sudah berada di depan rumah keluarga Xi LuHan yang mewah. “Kau sudah gila?!! Dengan penampilan kita yang seperti ini ,bagaimana bisa kita menemui keluargamu sekarang..??!”,

“Memang ada apa dengan penampilan kita? Penampilan mu tidak buruk, kau begitu cantik dengan gaun pemberianku ini.”, ujar LuHan santai.

“Kau!! Penampilan mu yang bermasalah! Luka mu itu bisa membuat orangtuamu marah!”, sentak HyeJin.

“Sekarang juga kita harus menemui orangtuaku. Tak ada waktu lagi, hanya sekali ini kesempatan kita. Gwaenchana.. Semua akan berjalan lancar.”, terang Luhan membuat HyeJin pasrah menurutinya.

Dengan perasaan gugup LuHan memperkenalkan Ok HyeJin pada kedua orangtuanya. Berbeda dengan LuHan yang terlihat sedikit gugup, HyeJin sama sekali tak merasa gugup, ia terlihat sangat tenang dengan senyumannya.

Ny.Xi mengajak HyeJin ke tamannya untuk mengobrol berdua. Sedangkan LuHan dilarang mengikuti mereka. LuHan tak tenang meninggalkan mereka berdua, ia takut umma’nya akan menjatuhkah HyeJin.

“Sudahlah.. Kau tenang saja! Umma mu tidak akan menjatuhkan harga diri HyeJin!”, ujar Tn.Xi menenangkan anaknya yang begitu gelisah.

“Tapi Appa.. HyeJin hanyalah yeoja biasa, pasti umma akan macam-macam dengannya ,karena HyeJin bukanlah seleranya.”, terang LuHan.

“Kau ini! Kau bilang dia yeoja biasa?! Appa tak melihatnya seperti itu. Auranya begitu mengagumkan! Dia seperti umma mu saat muda dulu. Aku yakin umma mu juga menyukainya!”, jelas Tn.Xi. LuHan pun menghela nafasnya.

“Ok HyeJin… Nama yang bagus. Ok berarti permata. Hye adalah perempuan anggun yang berintelijensi. Dan Jin artinya kebenaran kan? Ku harap kau seindah nama mu.”, ujar Ny.Xi.

“Saya sangat memahami makna nama itu, jadi saya tahu bagaimana menjaga nama baik saya ini.”, ujar HyeJin. Ny.Xi tersenyum tipis mendengarnya.

“Bagaimana keluargamu? Dan bagaimana pendidikanmu?”, tanya Ny.Xi.

“Status keluarga tidak setinggi keluarga Anda. Appa sudah meninggal, dan umma hanyalah seorang pegawai di rumah makan sederhana. Sejak kecil saya sekolah dengan mengandalkan beasiswa prestasi.”, jelas HyeJin tanpa ragu.

“Kau seangkatan dengan LuHan di universitas?”, tanya Ny.Xi lagi.

“Ne. Bulan depan saya akan lulus sebagai sarjana hukum, dan langsung diterima di kantor kejaksaan Seoul karena kemampuan saya sudah teruji.”, jawab HyeJin.

“Jinjayo? Kau yeoja yang mengagumkan. Aku bisa melihatnya dari auramu. Aku pikir akan lebih baik jika kalian tak berlama-lama pacaran. Pernikahan kalian akan kami adakan seminggu setelah kalian lulus.”, ujar Ny.Xi. Sontak HyeJin membulatkan kedua matanya, namun ia berusaha menutupi perasaan terkejutnya.

“Bulan depan?! Itu bagus!”, ucap LuHan semangat ketika ia dan HyeJin sudah berada di depan rumah HyeJin.

“Kenapa secepat itu, haa?!!!”, protes HyeJin.

“Ya mana kutahu!!”, pekik LuHan.

-Next Month-

-Beijing, China-

*Author POV*

Sehari setelah upacara pernikahan LuHan dan HyeJin dilaksanakan, mereka pergi ke Beijing untuk mengunjungi keluarga Xi LuHan yang tak sempat datang ke pernikahannya.

“Kita menginap di hotel? Bukankah kau punya keluarga disini?”, tanya HyeJin pada Luhan yang langsung membawanya ke sebuah hotel setibanya mereka di Beijing.

“Rumah keluargaku disini tidak besar. Aku takut kau tidak akan nyaman menginap disana.”, jawab LuHan menggandeng tangan HyeJin memasuki hotel.

“HyeJin-ah, pesanlah kamar! Aku lelah. Kau bisa bahasa mandarin kan? Kalau tidak bisa pakai bahasa inggris saja!”, pinta Luhan terduduk lemas di sofa loby hotel. HyeJin pun bergegas ke bagian receptionis.

“Ini. Aku di kamar 124. Dan kau kamar 125.”, ujar HyeJin menyerahkah salah satu kartu kamar yang ia pesan.

LuHan pun langsung beranjak dari duduknya. “Mwo??! Kau pesan 2 kamar?!”, kejut Luhan.

“Wae?”, balas HyeJin innoncent, lalu mengambil kopernya dan meninggalkan LuHan yang masih berdiri di tempat dengan raut wajah kecewa.

-Next Day-

*Author POV*

“Itu ada taksi! Ayo cepat!”, ajak LuHan mencegat(?) taksi di pinggir jalan.

“Shirreo! Kita naik bus umum saja!”, tolak HyeJin berjalan meninggalkan LuHan. LuHan pun mau tak mau mengikuti langkah HyeJin menuju halte terdekat.

Bus yang mereka tumpangi sudah penuh penumpang, terpaksa mereka pun harus berdiri di dalam bus yang sesak.

“Disana hanya ada 3 anggota keluarga ayahku. Nenek, Xi XiaoHan Ajumma, dan suaminya.”, terang LuHan pada HyeJin. Namun, HyeJin tak menanggapinya. Ia merasa tidak nyaman dengan namja asing yang terus menyesakinya(?). LuHan yang menyadarinya langsung berpindah tempat di hadapan HyeJin untuk menghalangi namja asing dari HyeJin.

HyeJin menatap LuHan kaget, dia merasa gugup berada di dekat LuHan.

“Salah sendiri tidak mau naik taksi!”, sindir LuHan membuat HyeJin lesu mendengarnya.

“Aku mohon jangan katakan itu di depanku!”, ujar HyeJin pelan. LuHan menatap HyeJin bingung. Tanpa menjelaskan apapun, HyeJin malah menyandarkan kepalanya di dada bidang LuHan. LuHan pun senang dan berusaha membuat HyeJin nyaman di dekatnya.

“Meili (cantik). Seharusnya aku yang memesan kamar kemarin.”, batin LuHan memandang kagum wajah HyeJin.

-Xi Family’s Home-

*Author POV*

HyeJin berjalan lemas mengikuti langkah LuHan. “Kalau tadi kita naik taksi, kau tak akan selemas ini.”, sindir LuHan setibanya di depan rumah keluarganya.

“Sudah ku bilang jangan katakan itu!!! Aku benci mendengarnya!!”, bentak HyeJin menatap kesal LuHan.

LuHan pun terdiam dan menatap HyeJin heran.

“Xi LuHan…!!”, sapa bibi LuHan keluar dari rumah itu menyambut kedatangan mereka. Mereka pun memberi salam, dan LuHan memperkenalkan HyeJin pada bibi dan keluarganya ketika mereka sudah berada di dalam rumah.

*LuHan POV*

Setelah lama berbincang-bincang dan makan bersama, kami pun memanfaatkan waktu kami berdua. Ku lihat HyeJin sedang mengamati sepeda tua yang tersandar pada dinding di halaman rumah nenek.

“Kau ingin menaikinya? Mau ku bonceng?”, tanyaku pada HyeJin.

“Namja yang biasa berkendaraan roda 4 seperti mu, mana bisa naik sepeda yang hanya beroda 2 ini..??!”, sindir HyeJin memandangku remeh.

“Mwo?! Aiiisshh, kau memandang remeh aku?! Enak saja! Kau sendiri?! Naik taksi saja takut!“, ujarku tak terima. Namun ia terdiam.

“Sudahlah! Ayo ku bonceng mengelilingi kompleks ini!”, lanjutku mengajak HyeJin.

“Shireo!! Aku saja yang memboncengmu!! Aku tidak yakin aku akan selamat jika kau yang membonceng!”, tolaknya.

“Yaa!!!! Kau ingin menjatuhkan harga diriku?!!”, protesku.

“Wae?! Oh.. Sebagai namja kau malu jika dibonceng oleh yeoja?! Kalau begitu….”, ujarnya sambil memasang raut berpikir. Namun, sedetik kemudian ia berlari memasuki rumah.

HyeJin pun keluar dengan memakai topi, lalu menghampiriku. “Menunduklah!”, suruhnya. Aku pun menunduk di hadapannya. Namun, apa yang dia lakukan. HyeJin menguncir(?) poni rambutku ke atas!

“Yaaa! Apa yang kau lakukan?!”, pekikku.

“Hahaha.. Kau sangat manis, Xi LuHan!!! Kkkk~ Ayo cepat naik!”, ujarnya dengan penuh tawa. Aku pun menurutinya, melihat tawanya emosiku teredam.

—-

“Yaa!!!! HyeJin-ah, pelan-pelan..!!”, teriakku cemas karena HyeJin mengayuh sepeda dengan cepat.

Ciiiiit.. HyeJin mengerem mendadak. “Aigoo…”, keluhku.

HyeJin turun dari sepeda dan menatapku remeh. “Payah!”, ejeknya lalu meninggalkanku yang masih lesu di jok sepeda.

Aku pun mengikuti HyeJin yang duduk di pinggir sungai. Aku memasang wajah cemberut, agar HyeJin merasa bersalah. Tapi sebaliknya, ia malah menertawaiku.

“Hahaha.. Wae?! Kau marah? Aku yakin kau tak akan bisa marah padaku.”, sindirnya. Aku pun semakin menggembungkan pipiku.

“Jangan pasang wajah seperti ikan! Kau akan semakin imut!”, ujarnya sambil mencubit pipiku membuatku tersenyum senang.

“Benar juga. Xi LuHan mana bisa marah dengan yeoja pujaannya?!”, ujarku.

“HyeJin-ah.. Boleh aku bertanya?”, lanjutku setelah beberapa saat kami terdiam. Namun HyeJin tak bergeming.

“Kau tak menyukai taksi, wae?”, tanyaku hati-hati. Masih tak ada jawaban darinya.

“Aku harus tahu alasan kenapa kau tak menyukai taksi. Jadi kau harus menjelaskannya! Jika tidak ,aku akan membahas hal ini berulang kali!”, ancamku agar ia angkat bicara.

“Karena taksi telah membawa appa ku pergi.”, jawabnya. Aku pun memperhatikannya seksama menunggu penjelasannya.

“Kau tahu kan Appa meninggal saat aku masih SMP. Appa tertabrak taksi tepat di depan mataku. Katanya rem taksi itu blong(?) hingga menabrak pejalan kaki, dan itu appa.”

“Eummmmm.. Tapi kau tidak benci mobil kan?”, tanyaku hati-hati.

“Asalkan mobil itu tidak ada tulisannya ‘taxi’ aku tidak akan mempersalahkannya.”, ujar HyeJin tanpa memandangku.

Kulihat raut wajah sedih HyeJin, “Apa kau merindukan Appa?”, tanyaku memecah keheningan.

“Tentu aku selalu merindukannya. Terutama rindu memeluk punggungnya yang hangat.”, jawab HyeJin tersenyum pahit.

Aku menatapnya teduh, ingin sekali aku memeluknya, tapi ku yakin dia akan berteriak menolakku.

“Sudah sore. Ayo kita pulang!”, ajaknya.

Aku pun langsung berdiri, dan berlari menuju tempat dimana sepedaku diparkir.

“Kali ini aku yang membonceng!”, seruku sudah bersiap-siap di kemudi sepeda.

“Lebih baik aku jalan kaki daripada kau bonceng! Aku tidak yakin kau…..”

Cup.. Aku mencium pipinya sekilas. Membuat rona wajah Hyejin memerah, “Jangan banyak protes!! Menurutlah padaku!!”, perintahku sambil melepas topi yang dikenakannya sedari tadi, lalu ku pakai. Karena ia tak kunjung berkutik, aku pun menarik HyeJin agar segera duduk boncengan(?) ku.

Aku juga menarik kedua tangannya ke depan agar menyabuk(?) ke pinggangku. “Jangan coba-coba melepas kedua tanganmu dari pinggangku! Arrasseo?!”, ujarku lalu mulai mengayuh sepeda ini dengan pelan.

Karena jalanan sepi, aku kayuh sepeda semakin cepat. Dapat ku rasakan HyeJin menyandarkan kepalanya ke punggungku dan mempererat pelukannya. “Apa dia takut?”, batinku.

Aku pun memperlambat kayuhanku. Namun posisi HyeJin tetap sama. “Apa dia sudah mulai nyaman berada di sisiku?”, pikirku sambil tersenyum bahagia.

*Author POV*

“Appa…”, lirih HyeJin menitikkan air matanya. Ia memeluk erat LuHan memboncengnya.

Sesampainya di rumah, HyeJin langsung turun dari sepeda dan berlari masuk rumah sembari menutupi wajahnya, LuHan yang sedang memarkirkan sepeda memandang HyeJin heran.

“HyeJin-ah.. Xi HyeJin.. Nyonya Xi…”, panggil LuHan mencari keberadaan istrinya. Dilihatnya HyeJin sedang berjongkok di depan bak yang berisi air di belakang rumah.

“Kau sedang apa?”, tanya LuHan menghampiri HyeJin yang sedang membasuh wajahnya dengan air.

“Sedang makan.”, jawab HyeJin asal.

“Mwo?!!”, kejut LuHan menatap heran istrinya.

“Kau buta?! Apa kau tidak bisa lihat aku sedang cuci muka?!”, sentak HyeJin kesal.

“Huuuhft.. Kau mulai galak lagi.. Eummm, airnya segar kan?”, balasku. HyeJin hanya mengangguk menjawabnya.

HyeJin beranjak mengambil handuk untuk mengeringkan wajahnya yang basah, lalu duduk di teras belakang diikuti LuHan.

“HyeJin-ah.. Kenapa kau mau menikah denganku?”, tanya LuHan membuat HyeJin menghentikan aktivitasnya.

“Bukankah kau yang memaksaku?”, balas HyeJin.

“Selain itu.. Alasan lain ,seperti karena kau menyukaiku.”, jelas LuHan.

“Eumm.. Karena kau adalah Xi LuHan. Namja yang memiliki status sosial yang tinggi, dan yang terpenting lagi kau sangat kaya.”, terang HyeJin.

“Hanya karena itu?”, tanya Luhan.

“Ne. Menikah denganmu bisa menaikkan statusku. Apa kau marah? Kau boleh menyebutku yeoja materialistis.”, ujar HyeJin.

“Berarti saat kau mengucapkan janji suci di depan pendeta, kau hanya mengucapkannya dengan asal tanpa menghayatinya?!”, tanya LuHan dengan nada sedikit tinggi.

“Eummm… Mungkin bisa disebut seperti itu.”, jawab HyeJin enteng. LuHan pun menghela nafasnya, dan berusaha tersenyum.

“Aku tidak akan marah, karena aku yakin kau akan menyukaiku nanti. Tapi jika alasan itu diketahui oleh umma ku, kau akan mati, begitu juga aku!”, terang LuHan.

“Asal kau tidak memberitahukannya pada umma, kita tidak akan mati. Kau hanya perlu tutup mulut dan menunggu!”, kata HyeJin santai beranjak dari duduknya.

Namun LuHan menahan tangan HyeJin. “Wo Ai Ni.”, ungkap LuHan tulus.

“gomawo.”, balas HyeJin tersenyum dan melepas tangannya dari genggaman LuHan, lalu beranjak masuk ke dalam rumah.

“Nado, ku harap itu jawabanmu.”, lirih LuHan.

-@08.30 PM-

*Author POV*

“Bibi Xi meminta kita untuk menginap malam ini.”, ujar LuHan.

“Mwo?!”, kejut HyeJin.

“Bibi Xi sudah menyiapkan kamar untuk kita, aku tidak enak hati menolaknya.”, terang LuHan. HyeJin pun menghela nafas, ia pun tak enak hati menolaknya atau memarahi LuHan.

LuHan dan HyeJin tidur beralaskan kasur lipat dalam satu kamar. HyeJin merasa risih tidur berhadapan dengan LuHan yang terus memandanginya penuh senyum. HyeJin pun membalikkan dirinya, tapi LuHan berpindah posisi ke hadapannnya lagi.

HyeJin membalikkan badannya lagi, LuHan pun berpindah posisi lagi, begitu pun seterusnya. Karena lelah mengikuti arah tidur HyeJin, LuHan pun menahan HyeJin agar tak berbalik.

“Jika begini, aku tidak akan bisa tidur.”, ungkap HyeJin menatap malas Luhan.

“Ada satu pertanyaan untukmu.”, kata Luhan.

“Apa?”, tanya HyeJin.

“Aku tanya sekali lagi, jawablah dengan jujur! Do you love me?”, tanya LuHan menatapnya dalam.

“No.”, jawab HyeJin singkat.

……

next?